MohgaNews|Madina – gula aren atau gula merah bukan lagi hal asingi bagi maayarakat khususnya bagi kalangan ibu rumah tangga. Gula aren banyak dimanfaatkan untuk membuat kue tradisional, bahan pencampur makanan dan sebagainya.
Tapi, tidak banyak yang tahu bagaimana proses produksi mulai dari pengambilan bahan baku hingga gula aren tersebut siap dipasarkan.
Produsen gula aren di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) paling banyak adalah di Desa Sipapaga Kecamatan Panyabungan dan di wilayah Kecamatan Muara Sipongi.
Bagi produsen gula aren di Sipapaga, produksi gula aren ini mereka pertahankan secara turun menurun meski penghasilannya tidak begitu memuaskan bagi mereka, setidaknya bisa menjadi uang tambahan untuk menutupi kebutuhan rumah tangga.
Salasa Lubis (39) salah seorang produsen gula aren bersama istrinya bernama Salmah (38) menceritakan kepada MohgaNews baru-baru ini di tempat pengolahan gula aren di Desa Sipapaga. Ia menyebut, pembuatan gula aren ini bahan dasarnya adalah air nira.
Air nira itulah yang direbus di dalam wajan besar dan menunggu hingga 7-8 jam lamanya, dan tempat memasaknya juga menggunakan tungku besar yang terbuat dari tanah dan bukan seperi cara orang memasak zaman sekarang yang mengandalkan gas.
Tetapi, produsen gula aren menggunakan kayu bakar yang diambil dari hutan maupun areal perkebunan warga setempat.
“Pertama, pohon aren nya dibersihkan terlebih dahulu, lalu diketuk sampai air getahnya keluar. Air getah itu kita tunggu mengering, kalau getahnya sudah kering, itu kita potong lagi maka air nira nya akan keluar. Air nira itulah yang ditampung dan dimasukkan ke dalam bambu yang sudah disiapkan,” ujar Salasa.
Ia mengatakan, setelah bambu berisi air nira penuh, mereka akan membawanya ke tempat pengolahan. Namun, sebagian warga ada yang menjual air nira tersebut dengan kisaran harga Rp 8 ribu pergelas.
Sementara bagi produsen gula aren, air nira tersebut dimasak hingga mengental dan mengeluarkan warna merah kehitam-hitaman.
“Butuh 7 hingga 8 jam menungguinya, kita tidak boleh meninggalkannya begitu saja, karena kita harus aduk-aduk juga biar hasilnya lebih bagus. Dan, kalau air nira sudah mengental dan berubah warna, maka kita akan hangatkan dan masukkan ke dalam tempahan yang terbuat dari seng, disitu kita olah biar modelnya jadi bulat,” timpalnya.
Setelah dihangatkan dan dimasukkan ke alat tempahan, beberap jam kemudian produsen akan membalut gula aren yang sudah jadi itu dengan kulit pisang, lalu beberapa hari kemudian, pengumpul atau tengkulak akan datang mengambil gula aren warga setempat.
“Toke yang datang sendiri kemari, saat ini harganya Rp 15 ribu perkilo, sementara harga jual di pasar Rp 20 ribu perkilo,” sebutnya.
Kemudian, pria yang sudah memiliki 3 orang anak itu mengatakan, dalam sehari mereka bisa memproduksi 10 Kg gula aren. Dan, hasilnya itu akan dibagi kepada pemilik kebun aren
“Kalau pohon aren lagi bagus air niranya, kami bisa memasak 10 Kg dalam sehari, dan hasilnya akan dibagi 3. 2 bagian sama kami selaku pengolah, dan 1 bagian untuk pemilik kebun, dalam seminggu kami bisa memasak 3-4 kali, tergantung air nira nya,” ujarnya.
Dengan penghasilan tersebut, Salasa menuturkan terkadang dia belum bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga apalagi anak-anaknya sudah sekolah. Dan, untuk memenuhi kebutuhannya dia akan bekerja di kebun karet warga setempat juga.
“Karena kan bukan tiap hari kami produksi, tentu hasilnya hanya pas-pasan untuk kebutuhan rumah tangga, terkadang tidak cukup. Maka kami akan ikut bekerja menderes di kebun karet warga disini juga,” ucapnya.
Produsen gula aren inui tetap berharap supaya mereka bisa terbantu dari segi produksi gula aren, seperti penjualan ke luar daerah supaya harganya bisa naik dibandingkan harga dari tengkulak atau pengumpul.
“Kami sudah sering sampaikan supaya kami bisa tertolong dan hasil produksi gula aren kami bisa meningkat, itu harapan kami,” tutupnya. (MN-05)






