KUA dan IPARI Madina Kolaborasi Safari Ramadan

MADINA – Kantor Urusan Agama Kecamatan Siabu dan Ikatan Penyuluh Agama Islam Rapublik Indonesia (IPARI) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) melakukan Safari Ramadan di desa Simaninggir Kecamatan Siabu, Rabu (20/03/2024).

Kegiatan ini diselenggarakan oleh KUA Siabu kolaborasi dengan Ikatan Penyuluh Agama Islam Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Madina. Hadir dalam acara ini Kepala KUA Siabu Edi Agusman, Pengurus BKM Masjid Al-Furqon, Aparan Desa Simaninggir, penyuluh agama Islam, penghulu, serta dihadiri antusias masyarakat desa Simaninggir.

Acara ini diawali buka puasa bersama di rumah Ketua IPARI Muhammad Iqbal, M.Sos. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan safari Ramadhan. Kedatangan rombongan Kepala KUA dan Pengurus IPARI Madina disambut antusias masyarakat dengan senang hati dan merasa bersyukur atas kunjungan ini.

“Insya Allah, kita akan terus menebar kebaikan, memberdayakan potensi yang ada, dan melakukan sentuhan dakwah langsung kepada masyarakat,” ujar Iqbal

Kepala KUA Siabu Edi Agusman dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang turut hadir meramaikan acara ini, yang merupakan program tahunan dengan tujuan menjalin silaturrahim dengan baik. Masjid sebaiknya dijadikan pusat kegiatan keagamaan oleh umat Islam.

“Pemberdayaan Masjid adalah merupakan salah satu tolak ukur kemajuan umat Islam. Jika Masjid sepi, itu tandanya umat sedang dalam krisis agama, akan tetapi jika Masjid selalu ramai, insya Allah agama semakin kuat di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, mari berdayakan Masjid dengan baik. Semoga pembangunan masjid desa kita ini semoga terwujud dengan cepat sesauai dengan harapan masyarakat,” ucapnya.

Penceramah pada kegiatan ini adalah Al-Ustadz Wahyudin Nasution, M.Pd. dalam ceramahnya ia menyampaikan; bahwa menurut Imam Al-Ghazali bahwa Ketaatan yang sifatnya perintah secara Lahir adalah seperti menegakkan shalat, membayar zakat, sedangkan yang sifatnya batin seperti mengenal Allah (ma’rifatullah), cinta kepada Allah, tawakkal, ikhlas, khouf (takut), roja (berharap kepada Allah), dan lain-lain.
Diakhir tausyiahnya menjelaskan Maksiat itu ada dua macam; maksiat lahir dan batin. Maksiat lahir ialah segala sifat tercela yang dikerjakan oleh anggota lahir seperti tangan, mulut, mata dan lain sebagainya. Sedang maksiat batin ialah segala sifat tercela yang diperbuat oleh anggota batin, yakni hati. (SAN)