MADINA – Jeritan hati petani di Desa Sayur Matua, Kecamatan Nagajuang, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) terungkap ke publik. Sejak bencana alam menerjang pada November 2025 lalu, sekitar 10 hektare lahan padi produktif di kawasan Saba Lama masih terlantar dan tertimbun material sisa banjir, membuat para petani kehilangan mata pencaharian utama mereka.
Hingga Sabtu (25/4/2026), kondisi lahan pertanian yang biasanya hijau kini tampak seperti hamparan pasir, batu, dipadati semak belukar akibat luapan Sungai Aek Namora. Sebanyak 30 petani mengaku sudah melewatkan dua kali siklus tanam karena lahan tidak bisa diolah.
Sulhanuddin, salah satu petani setempat, memaparkan bahwa dari total 28 hektare lahan produktif di Saba Lama, 10 hektare di antaranya mengalami kerusakan total.
“Kami sudah dua kali masa tanam tidak bisa turun ke sawah. Jika dihitung, kerugian dari 10 hektare lahan ini mencapai Rp200 juta per masa panen. Perekonomian warga semakin terpuruk,” ungkap Sulhan di lokasi pertanian.
Kekecewaan petani semakin memuncak lantaran janji Pemerintah Kabupaten Madina yang tak kunjung terealisasi. Sulhan menyebutkan bahwa perwakilan petani telah bertemu dengan Kadis Pertanian, BPBD, dan Kadis PUPR di ruang Sekretaris Daerah pada awal April 2026.
“Waktu itu dijanjikan dua minggu setelah pertemuan akan dikerjakan perbaikan lahan, tapi sampai hari ini janji itu tinggal janji,” ungkapnya.
Nasib serupa dialami Maswati Nasution. Ibu tiga anak ini mengaku kehilangan tumpuan ekonomi untuk membiayai sekolah anak-anaknya yang masih duduk di bangku SMP dan SMA.
“Hanya ini kerjaan saya selama lima tahun terakhir. Sekarang lahan rusak total, kami mohon perhatian pemerintah dan para tokoh, jangan biarkan kami kelaparan,” harap Maswati.
Menanggapi keluhan tersebut, Plt Kepala Dinas Pertanian Madina, Taufik Zulhadra Ritonga, membenarkan bahwa lahan di Saba Lama masuk dalam data terdampak bencana November 2025. Ia mengklaim pihaknya tengah mengupayakan anggaran dari Kementerian Pertanian RI.
“Insya Allah, saya yakin perbaikan lahan bakal dikerjakan pada minggu kedua Mei 2026. Saat ini anggota saya masih di Medan untuk mengurus hal tersebut,” jelas Taufik saat dikonfirmasi.
Taufik juga menyoroti adanya kejanggalan pada proses normalisasi sungai Aek Namora yang dilakukan Desember 2025 lalu. Ia menyebut dua unit alat berat bantuan PTPN IV yang semula diarahkan bekerja dari hulu ke hilir, tiba-tiba digeser pada malam hari ke lokasi lain.
“Padahal kalau dikerjakan sesuai arahan dari hulu, masalah lahan ini mungkin sudah tuntas. Perbaikan lahan ini adalah prioritas kami, apalagi demi mendukung Asta Cita Presiden Prabowo dalam mewujudkan swasembada pangan,” tutupnya. (FAN)






