MADINA – Belum selesai tahapan pemilihan umum presiden dan wakil presiden serta pemilu legislatif 2024, nuansa pemilihan kepala daerah sudah mulai terasa. Termasuk di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) walaupun pilkada pemilihan bupati dan wakil bupati akan berlangsung pada bulan November yang akan datang.
Hal ini ditandai dengan sejumlah nama tokoh muncul dan dikabarkan akan bertarung pada pilkada nanti. Seperti nama Drs Dahlan Hasan Nasution, Bupati Madina periode 2016-2021 lalu.
Dahlan Hasan Nasution dalam beberapa kesempatan sudah memulai debutnya dengan melakukan kunjungan silaturahmi ke tengah masyarakat Kabupaten Madina. Ia menemuia kerabatnya di beberapa tempat. Seperti di pantai barat dan Panyabungan sebagai pusat pemerintahan di Kabupaten Madina. Bahkan kepada sejumlah wartawan Dahlan Hasan secara halus menyampaikan kesiapannya maju pada pilkada pemilihan bupati dan wakil bupati tahun 2024.
Tokoh lain yang juga dibincangkan masyarakat akan maju pada pilkada nanti adalah Ivan Iskandar Batubara. Wakil ketua umum Kadin Indonesia ini sering mengunjungi kampung leluhurnya di Kabupaten Madina. Ia adalah putra sulung pengusaha beken dari Sumatera Utara, yakni almarhum H. Maslin Batubara. Ivan juga abang kandung mantan Bupati Madina, Muhammad Hidayat Batubara.
Belakangan ini nama Ivan makin kencang dibicarakan masyarakat dikarenakan sejumlah baliho dan spanduk ucapan menyambut puasa bulan Ramadan mejeng diberbagai tempat keramaian.
Nama Ivan Batubara bukan kali ini saja muncul pada kontestasi pilkada Kabupaten Madina. Ivan Batubara sempat mendaftar ke sejumlah partai politik sebagai bakal calon bupati pada pilkada Madina tahun 2015 lalu. Namun gagal bertanding. Pasangan calon yang ditetapkan KPU Madina saat itu hanya ada tiga yaitu: Mhd Yusuf Nasution-Imron Lubis, lalu Dahlan Hasan Nasution-Muhammad Jafar Sukhairi Nasution, dan Saparuddin Haji Lubis-Miswaruddin Daulay. Yang mana pemenang pilkada ini adalah Dahlan Hasan Nasution-Muhammad Jafar Sukhairi Nasution.
Selain nama Dahlan Hasan dan Ivan Iskandar, masih ada sejumlah nama yang mewarnai bursa tokoh yang diperkirakan maju di pilkada nanti, seperti Fakhrizal Nasution, anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara periode 2019-2024. Fakhrizal juga diperkirakan akan menyiapkan langkah untuk bertarung di pilkada nanti.
Selain Fakhrizal, tokoh lain juga muncul dari keluarga besar pesantren Musthafawiyah Purba Baru. Awalnya nama Zuhri Musthafa Nasution digadang-gadang akan maju di pilkada nanti. Namun belakangan ini muncul pula nama Harun Mustafa Nasution, wakil ketua DPRD Sumatera Utara. Harun diperkirakan akan banting setir dari legislatif menuju kepala daerah. Sejumlah pihak menilai hal ini dikarenakan Harun diperkirakan gagal melaju ke DPR RI disebabkan kalah suara dari petahana, Gus Irawan Pasaribu.
Zuhri dan Harun merupakan adik kandung pimpinan pesantren Musthafawiyah, yaitu H. Musthafa Bakhri Nasution.
Tokoh lain yang sangat memungkinkan maju di pilkada Madina 2024 nanti adalah H. Aswin Parinduri, Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Madina. Aswin berhasil mengantarkan Partai Golkar pemenang suara terbanyak kedua pada Pemilu 2024 di Kabupaten Madina dengan penambahan jumlah kursi, dari lima kursi menjadi enam kursi.
H. Aswin juga sudah mendapat rekomendasi maju sebagai calon bupati dari Partai Golkar. Rekomendasi tersebut diterima H. Aswin tahun lalu.
Dari sejumlah tokoh tersebut yang diperkirakan maju harus siap menghadapi strategi politik dari H. Muhammad Jafar Sukhairi Nasution yang saat ini menjabat Bupati Madina dengan pasangannya Atika Azmi Utammi. Pun dengan tokoh sekelas H. Erwin Efendi Lubis, Ketua DPRD Madina.
Sukhairi, Atika, dan Erwin Efendi Lubis sejauh ini masih dinilai memiliki ‘modal’ paling besar dibandingkan nama-nama tokoh di atas yang penting diwanti-wanti.
Terlepas dari kekurangan dan kelebihan mereka, tapi hari ini mereka memiliki investasi politik yang cukup besar dan modal kuat menghadapi kontestasi pilkada 2024 nanti
Sukhairi Nasution mampu mengantarkan partainya (PKB) sebagai pemenang sura terbanyak pada pemilu 2024 di Kabupaten Madina, walaupun kalah perolehan kursi dari Partai Gerindra dan Partai Golkar. PKB diperkirakan mendapat lima kursi, sedangkan syarat untuk mengusung pasangan calon bupati dan wakil bupati minimal 20 persen dari jumlah anggota DPRD Madina, yaitu delapan kursi di DPRD Madina. Ini menandakan PKB harus berkoalisi dengan partai lain.
Sementara Partai Gerindra yang diperkirakan memperoleh tujuh kursi hanya memerlukan satu kursi lagi untuk bisa mengusung pasangan calon bupati dan wakil bupati.
Politik itu dinamis, banyak dinamika yang terjadi di dalamnya. Tapi yang pasti pilkada adalah pesta demokrasi, pesta rakyat. Semua kembali pada pilihan masyarakat. Kita sambut bersama gelaran politik secara riang gembira.
Catatan redaksi.








