TAMBANGAN, – Kecamatan Tambangan yang memiliki 19 Desa/Kelurahan dan penduduknya mayoritas petani atau penyadap karet mengeluh dikarenakan harga karet yang tak kunjung naik. Saat ini harganya paling tinggi Rp 9 ribu perkilo. Bagi yang menjual karet basah harganya cuma sekitar Rp 7 ribu hingga Rp 8 ribu perkilo
Menurut warga, harga tersebut belum bisa menormalkan penghasilan petani, sebab penghasilan mereka rata-rata 30 kilogram perminggu.
Marzuki Nasution, petani karet di Tambangan mengungkapkan, harga saat ini sudah berlangsung sekitar 3 bulan.
“Sudah 3 bulan harganya tertahan Rp 9 ribu paling tinggi. Kita bukan tidak bersyukur, bila dibandingkan dengan sebelumnya harganya lebih murah lagi. Tetapi, dengan harga karet sekarang kami masih kesulitan. Karena warga di sini kebunnya tidak luas, rata-rata hanya sekitar 30an kilogram seminggu,” ujarnya
Dengan kondisi tersebut, Marzuki berharap perhatian dari Pemerintah Daerah terkhusus kepada Dinas Pertanian untuk memberikan solusi yang bisa meningkatkan perekonomian masyarakat
“Kami berharap Dinas Pertanian dapat membantu kami, misalnya membina untuk pengembangan komoditi lain, seperti tanaman muda yang usia panennya pendek agar ekonomi masyarakat bisa membaik. Warga belum berani mencoba tanaman muda apabila belum ada pembinaan dan pengembangan dari pemerintah,” ungkapnya.
Senada disampaikan Febri Alamsyah SH, tokoh pemuda setempat kepada MohgaNews, Kamis (29/7/2021)
“Tambangan merupakan wilayah pertanian, tentu kami berharap kepedulian pemerintah untuk mengoptimalkan pengembangan komoditi pertanian di Kecamatan Tambangan. Karena berharap dari hasil karet tidak cukup bagi warga kita. Karena itu kami berharap dinas pertanian dapat membantu warga seperti memberikan pelatihan dan fasilitas pendukung pertanian lainnya,” harap Febri. (MN-16)









