MADINA, Mohga – Perihal penerapan sistem pemilu proporsional terbuka dan tertutup pada tahun 2024 mendatang kini tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat, khususnya partai politik kontestan pemilu di berbagai daerah, termasuk Mandailing Natal (Madina). Pasalnya, penerapan sistem ini akan sangat berdampak bagi Partai selaku kendaraan politik setiap Calon Anggota Legislatif (Caleg) yang diusung Partai.
Sebagian partai diketahui menolak Sistem Pemilu Proporsional Tertutup dengan menilai bahwa Sistem Pemilu Proporsional Terbuka lebih transparan dan demokratis.
Salah satu parpol di Madina yang menolak proporsional tertutup itu adalah Partai Nasdem Madina yang dipimpin Sainal Abidin sebagai Ketua, Muhammad Baharuddin selaku Sekretaris dan Bendahara Zulhelmi Saputra.
Pernyataan penolakan itu diungkapkan oleh Sainal Abidin melalui Sekretaris Baharuddin yang dihubungi Mohga News pada Selasa (13/06/2023).
“Sesuai arahan DPP Nasdem, yaitu menolak pemilu sistem proporsional tertutup. Karena kita menilai, proporsional terbuka lebih transparan. Dan rakyat tahu siapa yang mereka pilih dengan kesadarannya sendiri sebagai penyambung lidah rakyat. Kalau diibaratkan, Sistem proporsional tertutup itu seperti membeli kucing dalam karung,” ujar Baharuddin yang akrab disapa Baha.
Partai Nasdem Madina menilai, penerapan sistem pemilu ini sangat berpengaruh. Karena sistem proporsional tertutup dapat mengendurkan semangat para Caleg partai sehingga tidak akan bertarung dengan sungguh-sungguh dalam kontestasi Pemilu 2024.
“Dan sejauh ini, komitmen partai dengan para caleg yang telah didaftarkan ke KPUD Madina yaitu dengan sistem proporsional terbuka. Jika nantinya keputusan MK adalah proporsional tertutup, Caleg yang didaftarkan akan mundur. Atau, jika semisalnya tetap ikut (bertarung dalam Pemilu) pun, caleg sudah pasti tidak semangat lagi. Padahal mereka sudah ikut mengerbankan tenaga, materi dan waktu dalam mengurus administrasi dan pemberkasan,” Lanjut Baha.
“Nasdem Madina mengedepankan persaingan yang sehat dan semangat dalam berkompetisi kepada setiap kader maupun Caleg dari Partai Nasdem. Dan tokoh dan figur caleg mempunyai peran tersendiri dalam meningkatkan elektabilitas partai di mata masyarakat,” pungkasnya.
Di lain pihak, Ketua Partai Ummat Madina, As Imran Khaitamy Daulay yang dimintai tanggapannya mengenai hal tersebut memberikan pandangan berbeda.
Partai Ummat Madina yang digawangi As Imran Khaitamy sebagai Ketua, Muhammad Soleh selaku Sekretaris dan Puli Jasakinali ini mengatakan Partainya siap dengan kedua opsi sistem pemilu tersebut.
“Kedua sistem itu sama sama memiliki kelebihan dan kekurangan. Sebenarnya Tinggal konsistensi partai politik bagaimana menyikapi sistem apapun yang dipakai. Sesuai amanat DPP Partai Ummat, kita siap mengikuti sistem yang manapun diberlakukan nantinya,” sebut Imran.
Ketua DPRD Madina periode 2009-2014 ini juga mengungkapkan bahwa Partai Ummat Madina telah menyiapkan konsep pemenangan di masing-masing sistem tersebut.
“Kita sudah memiliki konsep pemenangan, baik itu terbuka ataupun tertutup, yang pasti Partai Ummat akan bersama dengan ummat dalam menjalankan perjuangan politik keummatan,” ujarnya.
Lebih jauh menurut Imran, alasan Partai Ummat tidak menolak sistem proporsional tertutup yaitu karena sistem tersebut cenderung dapat mengembalikan peran dan kedudukan partai politik secara maksimal dan mengurangi terjadinya praktek transaksional dalam pemilu yang berakibat pada bengkaknya pembiayaan kepada setiap calon legislatif.
“Namun Partai Ummat jg tidak patut untuk mengesampingkan arus deras yang menginginkan agar tetap dengan sistem proporsional terbuka, krn sistem ini paralel dengan semangat demokrasi yang dijalankan dengan jujur adil, transparan dan akuntabel,” pungkasnya mengakhiri. (MN-07)






