MADINA, Mohga – Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dikenal daerah penghasil ganja terbesar setelah Aceh. Ladang ganja di daerah asal Jenderal Besar Abdul Haris Nasution ini berada di pegunungan Tor Sihite Kecamatan Panyabungan Timur. Dan, pemilik ladang ini didominasi warga beberapa desa di kaki bukit Tor Sihite. Seperti Desa Pardomuan, Huta Tinggi dan Banjar Lancat.
Selama ini, sudah banyak masyarakat beberapa desa tersebut mendekam di dalam penjara akibat bertani ganja maupun terlibat transaksi ganja sebagai usaha mereka. Namun, belakangan ini mulai sadar dari pekerjaan haram itu yang menyebabkan nasib anak-anak yang tidak terurus hingga banyak perempuan berstatus janda karena suaminya ditangkap polisi karena terlibat bisnis haram tersebut.
Darman Nasution, salah satu tokoh setempat mengeluhkan minimnya perhatian pemerintah yang menyebabkan mereka jauh dari kesejahteraan maupun pemerataan pembangunan. Misalnya saja kondisi akses jalan ke sana yang sampai sekarang memprihatinkan. Darman menyebut infrastruktur jalan yang memadai akan berdampak pada peningkatan ekonomi warga sekitar, sehingga hasil bumi seperti kulit manis, karet, coklat dan tanaman holtikultura lainnya dapat diangkut dengan mudah
“Pembangunan jalan dari Ranto Natas hingga Banjar Lancat akan membawa dampak positif bagi petani, dan kami yakin bila akses jalan ini dibangun masyarakat akan mengalihkan ladang ganja dengan tanaman holtikultura, karena tanah di sini amat subur,” terangnya pada kegiatan reses Ketua DPRD Madina Erwin Efendi Lubis, Minggu (28/8/2022)
Warga, kata Darman, bersyukur atas kunjungan Ketua DPRD Madina yang memilih desa terluar itu jadi tujuan resesnya. Mereka yakin dengan kehadiran Ketua DPRD Madina harapan pembangunan jalan yang diinginkan masyarakat dapat terwujud dalam waktu tidak lama.
Sementara Kepala Desa Huta Tinggi, Muhammad Sein turut menyampaikan aspirasi dalam reses tersebut.
“Saya tidak malu mengatakan kampung kami ini sarang ganja. Kami meminta tolong kepada Ketua DPRD dan Pak Bupati agar pembangunan jalan ini segera terlaksana, ini satu-satunya solusi menekan produksi ganja dari sini,” kata Kades
Sein mengaku telah beberapa kali melakukan rapat resmi bersama seluruh kepada desa tentang titik pembangunan jalan, bahkan sudah mengirimkan surat ke Bupati Madina tentang usulan titik pembangunan.
“Seluruh kepada desa di Panyabungan Timur mendukung titik jalan dibangun mulai dari Banjar Lancat hingga ke Pasar Kami. Apabila titiknya dibuat dari Desa Pagur, maka lima desa di sini akan tertinggal,” katanya.
Ketua DPRD Madina, Erwin Efendi Lubis turut prihatin atas keluhan yang disampaikan aparat desa, masyarakat hingga alim ulama di desa penghujung tersebut. Ia berjanji dan terus meyakinkan masyarakat bahwa pembangunan jalan akan diupayakan semaksimal mungkin tahun 2023.
Erwin menyampaikan dengan tegas jika memang pemerintah daerah masih menganggap masih bahagian dari wilayah Madina, maka tidak alasan apapun untuk membangun sarana dan prasarana yang diperlukan masyarakat.
“Apapun yang saya sampaikan hari ini, jika sudah saya katakan di bangun, maka apapun kendalanya saya akan mempertaruhkan jabatan saya. Insyaallah 2023 jalan ini akan saya bangun,” tegasnya.
Dengan jabatan sebagai Ketua DPRD, Erwin menerangkan kepada masyarakat bahwasanya ia mempunyai hak untuk menyampaikan dan memperjuangkan keluhan atau aspirasi masyarakatnya.
Erwin menyebut kondisi tersebut terlalu miris apabila solusi untuk menuntaskan permasalahan jalan tersebut tidak mendapat solusi yang terselesaikan. Sebab, apa untungnya wakil rakyat yang tidak bisa berjuang bagi rakyatnya.
“Kekuatan saya hanya masyarakat saya. Jadi yakinlah jika sudah saya katakan iya, pasti akan diperjuangkan untuk dikabulkan,” tutup Erwin.
Informasi dihimpun, selain keluhan infrastruktur jalan, masyarakat juga mengeluhkan aliran listrik tidak sampai ke Banjar Lancat, ditambah sarana dan prasarana sekolah yang tidak memadai. Namun masyarakat hanya fokus ke infrastruktur jalan untuk diperjuangkan semaksimal mungkin. (MN-08)






