MohgaNews|Madina – warga sejumlah desa di kecamatan Hutabargot kabupaten Mandailing Natal (Madina) mengeluhkan kondisi sungai Aek Simalagi. Karena, hampir setiap hujan turun sungai tersebut meluap dan meyebabkan genangan air di pemukiman masyarakat.
Pantauan MohgaNews, Jumat (16/11), badan sunga Aek Simalagi yang membelah beberapa desa di kecamatan Hutabargot telah melebar akibat tingginya curah hujan dalam beberapa bulan terakhir. Menurut warga, penyebab banjir yang sering terjadi disana karena tidak ada tanggul penahan bibir sungai, sehingga badan sungai tidak dapat menahan debet air di saat hujan deras.
Akibatnya, beberapa desa khususnya desa Kumpulan Setia puluhan kali terjadi banjir.
“dalam kurun waktu lima tahun ini, desa kami selalu banjir dan rumah warga terendam, ini disebabkan tidak ada tanggul penahan debet air sungai, akhirnya setiap hujan lebat, warga disini siap-siap mengungsi. Ini sudah puluhan kali terhadi,” sebut kepala desa Kumpulan Setia, Parimpunan Nasution didampingi Sekretaris Desa, Muhammad Rivai.
Selain dikarenakan tanggul penahan debet air sungai yang tidak ada, luapan air sungai ke pemukiman penduduk juga disebabkan adanya kegiatan galian C di hulu sungai. Sehingga, sisa pasir dari hasil kegiatan tersebut hanyut ke hilir sungai, dan badan sungai ditimpa pasir dan makin dangkal.
“di hulu ada galian C, jadi kalau hujan lebat, pasir sisa pekerjaan galian C hanyut ke hilir, terjadi pendangkalan badan sungai, akhirnya air sungai meluap dan menggenangi rumah warga,” ungkap keduanya.
Warga setempat juga mengeluh atas situasi ini, setiap hujan turun kata mereka, warga akan bergegas dan siap-siap untuk mengungsi ke rumah penduduk yang lain yang berada di dataran tinggi dan lebih nyaman.
“bapak lihat sendiri lah, pekarangan kami sampai sekarang masih berlumpur, harus dibuat papan dulu di pekarangan rumah, supaya tidak berlumpur bila mau keluar rumah,” ujar Sulaeman, warga setempat sembari menyebut dalam sebulan ini, sudah terjadi beberapa kali banjir di desa mereka itu, namun sampai sekarang belum ada peninjauan dari Pemerintah, padahal akibat banjir beberapa kali di desa itu, warga mengalami kehilangan hewan ternak, perabotan rumah yang rusak dan kerugian materi lainnya.
“mungkin karena tidak ada yang meninggal, sehingga kami tidak diperhatikan, memang kejadian di desa kami ini tidak banyak terekspos di media sosial seperti yang terjadi di desa yang lain,” keluhnya.
Warga beserta aparat desa berharap kepada Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal agar memperhatikan kondisi penyebab bencana alam yang bersumber dari sungai Aek Simalagi. Mereka memohon supaya di bantaran sungai dibuat beronjong atau tanggul dek penahan air agar warga bisa selamat dari banjir.
“Karena, setiap hujan lebat, warga merasa was-was dan diancam banjir. Dan usulan pembuatan dek penahan atau beronjong sudah beberapa kali kami sampaikan dalam Musrenbang di kecamatan, namun sampai sekarang pembangunannya belum terealisasi,” kata Sekretaris desa, Muhammad Rivai.
Sekretaris MPC Pemuda Pancasila Kabupaten Madina, Muhammad Ridwan Lubis yang ketika itu ikut bersama perangkat desa meninjau penyebab banjir yang bersumber dari sungai Aek Simalagi. Kepada wartawan, Ridwan Lubis menyebut, pemerintah perlu segera mewujudkan keinginan masyarakat Hutabargot tersebut.
“Ini kan kaitannya dengan nyawa, jangan lagi ditunda-tunda. Kita kasihan melihat situasi ini, karena kondisi ini sudah lima tahun terjadi, setiap hujan lebat turun rumah penduduk terendam. Tentu, kita harap Pemerintah Kabupaten Madina menampung anggaran pembangunan tanggul atau dek penahan debet air sungai, sekaligus melakukan pengerukan, supaya warga ini bisa selamat dari banjir,” kata Ridwan yang juga Calon anggota DPRD Madina dari Partai Amanat Nasional Dapil V itu. (MN-01)






