Produsen Kue Bika dan ‘Lopek Maga’ Terancam Tutup Karena Covid-19

MohgaNewsIMadina – produksi kue Bika Mandailing dan ‘Lopek Maga’ (kue berisi inti kelapa) dari Mandailing Natal (Madina) turun drastis semenjak ada pandemi Covid-19.

Usaha produsen sekaligus pedagang kue tradisional yang beralamat di jalan lintas sumatera Kelurahan Maga Pasar Kecamatan Lembah Sorik Marapi, Madina itu terancam tutup dikarenakan penjualannya yang semakin menurun.

“pelanggan kita kebanyakan dari luar Madina, semenjak ada virus corona produksi semakin sedikit dan penjualan menurun drastis. Setiap lebaran biasanya kami banyak menerima pesanan, tetapi lebaran kemarin sangat jauh bedanya, karena pemudik pun tidak ada lagi,” kata Etti Hartini (42) pelaku usaha produksi kue Bika dan Lopek Maga yang ditemui di lapak jualannya, Jumat (21/8/2020)

Ia menerangkan dalam sehari biasanya ia bisa menghabiskan 120 piring kue Bika, tetapi saat ini menghabiskan 20 piring saja sudah susah

“Biasanya bus AKAP singgah di sini untuk membeli oleh-oleh, tapi sekarang sudah jarang singgah,” ujarnya sembari menyebut harga kue Bika ia jual Rp 5 ribu satu piring.

Selain kue Bika dan Lopek Maga, ibu empat orang anak itu juga menjual penganan tradisional dari Mandailing, yakni keripik incor, cucur, banggelong, itak poul-poul dan sasagun. Semuanya ia produksi sendiri dan dijual di kios yang ia buka di pinggir jalan lintas di Kelurahan Maga Pasar.

Etti memberitahukan cara pembuatan kue Bika tersebut. Bahan kue Bika Maga atau Bika Mandailing terbuat dari tepung beras, santan dan gula merah. Kemudian, adonan tepung beras yang sudah dicampur santan dan gula merah itu dimasukkan ke dalam tuangan sebesar piring menggunakan alas dari daun pandan dan daun pisang. Daun pandan dan daun pisang itu diletakkan sebagai lapis dan penutupnya. Seterusnya dipanggang menggunakan arang dari sabut kelapa. Tunggu sekitar 15 menit, kue Bika Maga sudah jadi dan siap dimakan.

Etti sudah melakoni usaha kue tradisional itu turun temurun dari orang tuanya.

“Mulai saya masih kecil dan sampai sekarang ini usaha utama kami, sekarang anak saya 4 orang dan semua masih sekolah, dari penghasilan kue inilah biaya sekolah dan keperluan rumah tangga kami. Suami saya ikut bantu-bantu, tapi karena sekarang pembeli lagi sepi, suami saya mencari tambahan penghasilan dari menderes kebun karet,” ucap Etti dan menyebut penghasilannya dari menjual beragam kue itu sekitar Rp 200 ribu setiap hari.

“Penghasilannya tidak stabil, apalagi di masa Covid-19 ini, rata-rata Rp 200 ribu dalam sehari,” pungkasnya. (MN-08)