MADINA – Nasib dunia pendidikan yang dialami oleh Azkyal Fikri, seorang atlet pencak silat asal Kabupaten Mandailing Natal (Madina), menuai sorotan publik. Pasalnya, ia dikabarkan dikeluarkan dari sekolah hanya melalui pesan singkat WhatsApp oleh seorang guru honorer SMA Negeri 3 Panyabungan.
Ironisnya, di tengah polemik status pendidikannya tersebut, Azkyal justru sukses menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih juara dalam ajang kejuaraan pencak silat antarprovinsi.
Kabar mengejutkan itu diterima langsung oleh orang tua Azkyal, Rahmad Hidayat, beberapa hari lalu. Merasa bingung dengan keputusan mendadak tersebut, Rahmad diwakili istrinya lantas mendatangi pihak sekolah guna meminta klarifikasi resmi.
Namun, pertemuan itu belum membuahkan hasil yang memuaskan. Menurut Rahmad, guru honorer yang mengirimkan pesan tersebut bersikeras bahwa keputusan pemberhentian itu sudah final dan telah mendapat persetujuan dari kepala sekolah. Pernyataan ini justru menimbulkan tanda tanya besar, lantaran kepala sekolah yang bersangkutan disebut-sebut tidak mengetahui adanya keputusan tersebut.
“Benar, guru itu mengirimkan pesan WhatsApp yang menyatakan anak saya dikeluarkan dari sekolah. Kami kemudian menemui pihak sekolah untuk mempertanyakan alasannya. Namun, guru itu mengaku keputusannya tidak bisa diganggu gugat dan bahkan menyebut sudah mendapat persetujuan kepala sekolah,” kata Rahmad Hidayat, Senin (26/10/2026).
Rahmad mengaku sangat menyayangkan dan kecewa dengan etika penyampaian pihak sekolah. Menurutnya, persoalan krusial yang menyangkut masa depan dan keberlanjutan pendidikan seorang anak semestinya diselesaikan melalui prosedur formal yang bijak, bukan sekadar lewat pesan instan.
Kendati tengah menghadapi tekanan psikologis akibat status pendidikannya yang digantung, Azkyal Fikri membuktikan ketabahannya dengan fokus berlatih. Semangat juangnya berbuah manis setelah ia sukses membawa pulang prestasi gemilang dari kejuaraan pencak silat antarprovinsi.
Capaian tersebut menjadi angin segar sekaligus kebanggaan tersendiri bagi pihak keluarga. Prestasi ini sekaligus menepis keraguan dan membuktikan bahwa Azkyal memiliki potensi besar untuk mengharumkan nama daerah melalui jalur olahraga.
Bagi Rahmad, keberhasilan sang anak menjadi dorongan kuat untuk terus memperjuangkan hak pendidikan Azkyal agar tidak terhenti secara sepihak. Ia berharap pihak sekolah bersikap ksatria dengan memberikan penjelasan yang transparan terkait dasar hukum serta prosedur pengambilan keputusan tersebut.
“Apabila benar ada keputusan pemberhentian siswa, kami berharap kebijakan itu ditinjau kembali sesuai ketentuan yang berlaku dengan tetap memprioritaskan hak anak untuk mendapatkan pendidikan,” tegasnya.
Rahmad berharap persoalan ini dapat segera diselesaikan secara kekeluargaan dan terbuka melalui mediasi antara orang tua, pihak sekolah, serta instansi pendidikan terkait.
“Pendidikan dan prestasi seharusnya berjalan beriringan. Setiap persoalan siswa perlu diselesaikan dengan mengedepankan prosedur yang jelas, pembinaan, dan kepentingan terbaik bagi masa depan anak,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, Wali Kelas Azkyal yang mengirimkan pesan WhatsApp itu saat dihubungi belum memberikan keterangan duduk perkara alasan paksa pemberhentian Azkyal. (FAN)








