KEMARIN saya turut merasa bangga mendengar cerita seorang ASN di Pemkab Mandailing Natal, namanya Muhammad Nuh. Dia sedang berbahagia karena dua orang putrinya sama-sama lulus masuk universitas ternama di negeri ini, yaitu IPB (Institut Pertanian Bogor)
Berselang bebera jam saya dihubungi teman, ia menyebut ada pula kerabatnya di Mandailing Natal yang lulus di IPB, padahal orang tuanya hanya seorang tukang ojek, saat ini sedang merantau karena tidak ada pekerjaan di kampungnya wilayah Mandailing Julu.
Sejenak saya berpikir ternyata banyak anak-anak Madina (Mandailing Natal) yang mampu berkompetisi masuk perguruan tinggi bergengsi di negeri ini, walaupun kebanyakan mereka tertatih dan penuh tantangan ekonomi selama menjalani pendidikan di kampus mereka. Orang tua yang serba kekurangan di kampung membuat mereka nyambi mencari penghasilan di kota tempat mereka menimba ilmu, hanya untuk mencari tambahan uang belanja. Tak sedikit mereka gagal menyelesaikan pendidikan dikarenakan kondisi ekonomi atau uang belanja yang tidak cukup, bahkan tidak ada sama sekali dari kampung. Ada juga yang berhasil. Tentu takdir dan perjalanan hidup orang berbeda-beda.
Seketika pula saya teringat dengan diskusi sekitar dua bulan lalu. Kala itu, ketemu dan satu meja dengan anggota DPRD Sumatera Utara dari Fraksi Partai Golkar, H. Ahmad Yasir Ridho Lubis. Beliau ini salah satu sepuh politik di Sumut yang berasal dari Mandailing Natal.
Saya sedikit banyak mengenal Yasir Ridho Lubis sewaktu beliau menjabat Ketua DPD KNPI Sumatera Utara. Ketika itu saya ikut sebagai pengurus DPD KNPI Mandailing Natal yang ia lantik tahun 2014 yang lalu. Terlebih lagi saat KNPI Sumut memilih Kabupaten Madina sebagai tempat pelaksanaan Musda KNPI Sumut, bertempat di markas Polres Madina.
Dalam diskusi kami itu, Yasir Ridho Lubis memaparkan konsep kecil membangun masa depan Mandailing Natal. Katanya, yang paling penting dibenahi adalah sektor pendidikan.
“Jangan sampai kebanyakan konsep, nanti dibilang orang pula lip service, ndak usah banyak cakap, pendidikan ini pertama dituntaskan,” kata Yasir dengan logat khas Medan-nya itu.
“Pasal 31 UUD tahun 1945 cukup jelas bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya, dan Negara juga memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN maupun APBD,
“Nah, APBD Madina itu Rp 1,6 Triliun. 20 persen dari jumlah itu hasilnya lebih dari Rp 300 miliar. Kalau anggaran Rp 300 miliar setiap tahun untuk pendidikan anak-anak Madina ditampung, saya kira masa depan daerah kita akan cemerlang. Intinya pendidikan itu mutlak dan tak bisa ditawar-tawar kalau kita ingin memperbaiki Madina,” kata Yasir.
Ia menjelaskan Rp 300 miliar setahun untuk pendidikan maka dapat dipastikan tidak ada lagi anak-anak terlantar tidak bisa sekolah, dan tidak ada pelajar beprestasi yang gagal masuk kuliah.
“Dana itu cukup membantu anak-anak yang ingin kuliah ke luar negeri, pemda membiaya mereka selama di sana, gak banyak habis uang itu, biaya semua pelajar kita yang berprestasi ke mana pu yang ia mau kalau memang mampu bersaing,
“Jangan kita takut misalnya dia lulus dari kampusnya tidak akan balek ke Madina. Itu pemikiran kuno. Biarkan dia memilih mau kerja di mana, karena balek kampung pun dia mau kerja apa di Madina. Paling penting adalah pemerintah hadir memberikan kemudahan bagi masyarakat, karena ini aset berharga daerah pada masa akan datang,” ungkapnya lagi.
Di ujung diskusi ini kami sedikit mengulas tentang figur pemimpin Kabupaten Madina, karena tahun ini akan dilaksanakan Pilkada pemilihan bupati dan wakil bupati. Katanya pemimpin itu harus tegas dan punya konsep, visi-misi yang terstruktur dan terukur.
“Memilih pemimpin tentu tidak terlepas dari track record, rekam jejaknya. Harus dilihat semua hal yang telah pernah dilakukan oleh seseorang di masa lalu, yang menunjukkan seberapa baik mereka melakukan suatu pekerjaan dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan pekerjaannya. Kemudian
pemimpin adalah orang yang punya konsep gagasan yang terlihat pada visi-misi. Lalu keberpihakan kepada yang dipimpinnya. Memikirkan masa depan rakyatnya. Visi-misi yang dieksekusi bukan hanya lip sevice saja, harus terukur dan terstruktur,” kata Yasir Ridho menutup diskusi kami malam itu.
Muhammad Ridwan Lubis
Pemimpin Redaksi Mohganews






