BULAN Agustus seyogyanya bulan bergembira bagi seluruh rakyat Indonesia. Agustus ini dinamakan sebagai bulan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dari semua bentuk penjajahan dan penindasan, meskipun Soekaeno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan itu pada 17 Agustus 1946, namun setelahnya masih banyak pergolakan dan perjuangan yang tujuannya mempertahankan kemerdekaan.
Bulan Agustus tahun ini bisa juga disebut dengan bulan ketegangan. Ketegangan dalam dinamika politik menyambut pesta demokrasi pemilihan kepala daerah serentak di seluruh Indonesia. Banyak hal menegangkan akan terjadi, karena di bulan ini pula KPU daerah (provinsi dan kabupaten kota) di seluruh Indonesia akan membuka pendaftaran pasangan calon kepala daerah: calon gubernur dan wakil gubernur, calon bupati dan wakil bupati, dan calon wali kota dan wakil wali kota.
Namun yang paling menegangkan bukan pada saat pendaftaran, melainkan siapa-siapa nanti yang mendapat tiket untuk mendaftar ke KPU daerah. Ada dua jalur yang dilewati semua bakal calon kepala daerah untuk mendaftar ke KPU, jalur independen atau perseorangan dan jalur partai politik atau gabungan partai politik. Bagi bakal calon yang memilih maju dari jalur independen maka harus telah menyiapkan bukti dukungan masyarakat dan diserahkan ke KPU di daerah pada bulan Mei yang lalu untuk selanjutnya diverifikasi. Sedangkan bakal calon kepala daerah yang maju melalui partai politik atau gabungan partai politik, harus memiliki dukungan syarat mininal 20 persen dari jumlah kursi anggota DPRD di daerah bersangkutan mencalon.
Di Kabupaten Madina, jumlah kursi di DPRD adalah 40. Apabila 20 persen dari 40 maka hasilnya adalah 8 kursi. Artinya setiap partai politik harus memiliki 8 kursi di DPRD baru bisa mendaftarkan pasangan calon bupati dan wakil bupati ke KPU. Sementara di Kabupaten Madina tidak ada satupun partai politik yang memiliki 8 kursi di DPRD. Dengan begitu maka partai politik harus berkoalisi untuk memenuhi 8 kursi di DPRD supaya bisa mengusung pasangan calon kepala daerah.
Mendapat tiket partai tidak seperti mudahnya mendapat tiket menonton bola. Ke luar uang lalu dapat tiket. Bukan begitu. Tiket partai ini adalah negosiasi, presentasi, dan adu kuat jaringan, walaupun tidak terlepas dari duit, itu bagian dari cost politik. Mana ada yang gratis hari ini. Minum air mineral saja harus bayar.
Negosiasi ini ibaratnya tarik menarik, dan proses meyakinkan pemilik partai bahwa dia yang lebih baik dari semua yang mendaftar. Tentu ini bukan perkara mudah. Banyak proses yang dilalui, karena menemui ‘ordal’ ini terkadang sulit. Orang dekat pemilik partai pasti jam terbangnya tinggi. Tidak sembarangan berurusan dengan mereka.
Tahapan inilah yang sedang berlangsung saat ini khususnya di Pilkada Madina, karena sampai hari ini belum ada partai politik mengumumkan pasangan calon bupati dan wakil bupati yang mereka usung. Uniknya beberapa partai masih sekedar memberikan surat tugas. Surat tugas ini bisa saja hanya sekedar penugasan mencari partai koalisi sekaligus memastikan pasangan, sebab belum ada bakal calon yang memastikan pasangan masing-masing.
Berangkat dari tahapan ini dapat digambarkan bahwa prosesnya masih dinamis. Masih alot. Namun dapat diperkirakan pertengahan Agustus ini semua partai akan mengeluarkan rekomendasi atau surat penetapan mengusung pasangan calon kepala daerah termasuk pasangan calon bupati dan wakil bupati Kabupaten Madina, karena minggu terakhir bulan Agustus KPU akan membuka pendaftaran calon bupati dan wakil bupati dalam Pilkada Madina 2024. Itu bisa disimpulkan bergembira dulu dalam rangka HUT ke 79 kemerdekaan RI selanjutnya menghadapi ketegangan.
Tentu masyarakat menginginkan dinamika politik ini berjalan baik-baik saja, tidak ada hal-hal di luar nalar yang dapat menganggu stabilitas dan kondusifitas daerah. Siapa pun nanti yang mendaftar ke KPU lalu ditetapkan sebagai calon bupati dan wakil bupati, maka merekalah putra putri terbaik daerah yang kita pilih nanti di 27 November mendatang. Siapa berpasangan dengan siapa, waktulah yang menjawab, yang pasti sebelum menentukan pilihan nanti, alangkah baiknya pelajari rekam jejak, visi-misi, program dan gagasan pasangan calon yang terbaik di antara mereka, agar tidak ada penyesalan yang pasti dirasakan selama lima tahun ke depan.
Muhammad Ridwan Lubis
Pemimpin Redaksi Mohganews










