UMKM Keripik Merah Putih Banjar Kobun Butuh Perhatian Pemerintah

0
180

PANYABUNGAN, – para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) berharap perhatian Pemerintah Daerah. Terlebih kepada Bupati dan Wakil Bupati yang baru dilantik tiga pekan lalu.

Sulaimah (47), pemilik pabrik keripik merah putih di Banjar Kobun Kelurahan Panyabungan II saat ditemui MohgaNews, Minggu (15/8/2021).

“Kami mendengar ibu Wakil Bupati kita sekarang peduli bagi pelaku UMKM seperti kami ini, harapan kami ibu Atika Azmi Utammi melihat langsung usaha kami yang sudah sangat lama kali tekuni. Kami butuh saran dan perhatiannya, terkhusus bagaimana pemasaran keripik ini agar laku di luar daerah,” ujar ibu Sulaimah beserta dua orang ibu yang juga mengaku punya usaha keripik merah putih di Banjar Kobun

Singkong yang sudah diolah dan dibentuk dikeringkan dahulu sebelum diproses jadi keripik merah putih di salah satu pabrik keripik merah putih di Banjar Kobun, Panyabungan

Saat ini, ia mengaku pemasaran kerupuk masih di Madina saja dan sesekali para pelaku usaha dari luar daerah datang ke pabrik mereka untuk membeli keripik buatan mereka itu

“Keripik merah putih ini sebenarnya sudah cukup dikenal di luar daerah. Pelanggan kami ada dari Sidimpuan hingga Pasaman Sumatera Barat. Tapi kami masih sering kalah bersaing dengan produk yang sama di luar daerah. Kami belum paham dimana letak kekurangannya, dari rasa, keripik merah putih sering dipuji pembeli, tapi kami jujur belum memahami cara pemasaran yang bagus,” ungkapnya

Salimah menjelaskan seputar bahan dasar pembuatan keripik merah putih. Bahan dasarnya yaitu singkong.

“Bahan dasarnya singkon, tapi kami juga masih beli dari luar daerah, karena lebih gurih dibandingkan singkong dari daerah kita. Dan, kami punya toke luar daerah yang bisa hutang hingga dua minggu baru dibayar. Maklumlah, modal kami yang kecil, kalau boleh hutang kami akan tertolong,” sebutnya lagi

“Kebutuhan pabrik kami ini 400 kilogram singkong perminggu, belum lagi pabrik tetangga. Di sini ada sekitar 40 rumah tangga pemilik usaha seperti saya, rata-rata kami membeli singkong dari luar Madina,” tambahnya sembari menyebut penjualan mereka menurun sejak pandemi Covid-19 satu setengah tahun terakhir. (MN-08)