MADINA – Iyusan Sukoco, S.Pd, guru di SDN 328 Sinunukan IV, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) menjelaskan kronologi kejadian yang menyebabkan ia dilaporkan orang tua siswa ke polisi dengan tuduhan kekerasan terhadap anak.
Sukoco menjelaskan kronologi melalui video yang dibagikan kepada wartawan, Minggu (19/10/2025)
“Kejadian itu simpel dan saya tidak tahu kenapa sampai seperti ini, kejadiannya pada hari Selasa 23 September 2025, pada saat itu saya mengajar PBB dikelas 5A. Minggu sebelumnya kelas 5A ini sudah belajar PBB secara global dan pada saat itu saya ingin menguji anak dengan sistem bershaf 3-4 orang, pada saat itu saya dapati seorang siswi ini ternyata belum bisa, saat aba-aba hadap kanan seharusnya kaki kiri dulu melangkah baru kaki kanan diputar tapi anak ini salah, saat hitungan satu anak ini memutar telapak kakinya sehingga kakinya menyilang, kalau saya lanjutkan hitungan ke dua akibatnya fatal, anak bisa jatuh, maka kaki itulah yang saya geserkan menggunakan kaki saya supaya tidak terjadi cidera atau jatuh,” jelas Sukoco.
“Kemudian saya tingkatkan ke lencang kanan, pada saat lencang kanan posisi anak menunduk jadi saya pegang dari depan dengan pelan supaya diangkatnyalah wajahnya supaya tegap, setelah itu saya hadapkan kanan kembali, ternyata anak tidak hadap kanan tapi serong kanan, pada bagian ketiga anak ini sudah keliatan murung, menurut saya murungnya itu mungkin karena malu karena kesalahannya terjadi bekali-kali, tapi kalau murungnya karena sakit bukan, karena saya tidak ada melakukan apa kecuali itu tadi,” tambahnya.
Terkait informasi penendangan pemukulan sampe muntah-muntah Sukoco menegaskan tidak ada.
“Tidak ada, tidak terjadi bahkan anak itu ceria -ceria saja,” tegasnya.
Terkait tuduhan yang dialamatkan padanya Sukoco mengatakan pasrah dan mengikuti proses hukum.
“Saya ikuti proses aja karena sudah terlanjur dilaporkan ke Polres, apapun yang terjadi saya hadapi, tapi yang saya sayangkan itu istilahnya hal sekecil itu bisa sampai seperti ini,” sesalnya.
Sukoco berharap hal seperti ini tidak terjadi pada guru-guru lain.
“Harapan saya hal seperti ini tidak terjadi pada guru yang lain, tidak terulang lagi dan kepada orang tua atau wali murid harus lebih bijak lagi menyikapi hal-hal seperti ini, karna pada dasarnya guru itu mendidik, melatih, membina dan menempah siswanya,” tutupnya. (MAD)






