MADINA,- dua orang seniman pelukis ruang konservasi seni istana Presiden Republik Indonesia berkunjung ke Kabupaten Mandailing Natal (Madina) selama dua hari sejak 7 hingga 8 Desember 2021 kemarin.
Kunjungan tersebut bertujuan dalam rangka penelitian dan peninjauan seni budaya lokal Madina. Mereka adalah Jenny Mahastuti dan Hafid Alibasyah.
Beberapa lokasi mereka kunjungi. Jenny dan Hafid didampingi salah satu budayawan Madina yang telah banyak menciptakan karya seni, Askolani Nasution.
Diketahui, waktu lalu, Jenny sempat memamerkan 200 sketsanya tentang suku Badui, hingga dirinya juga mendalami sisi dari kehidupan suku tersebut di pedalaman pulau jawa.
Sementara Hafid merupakan dosen Institut Kesenian Jakarta. Dosen anatomi ini memang tidak diragukan lagi kepiawaiannya dalam melukis. Bahkan, telah mencatatkan dirinya sebagai pelukis yang sudah berkarya tingkat Internasional.
Informasi dihimpun, Jenny dan Hafid ingin membuat sketsa buku tentang ”Inang Perkasa dan Usartolang”. Cerita budaya adat dan kearifan lokal tanah Mandailing yang ditulis dalam buku setebal 1.500 halaman karya Rayani Sriwidodo.
Rayani ini merupakan sastrawan putra asli bumi gordang sambilan asal Kotanopan yang malang melintang dalam perjalanan sastra Indonesia. Buku yang rencananya terbit akhir tahun ini bercerita tentang ibu Rayani Sriwidodo tentang kisah perjuangan wanita Mandailing yang membesarkan 13 anaknya hingga menjadi orang-orang hebat.
Ilustrasi buku itu berisi berbagai khazanah khas Madina, baik panorama alam, benda, maupun keseharian orang Mandailing.
Kepada wartawan, Askolani menjelaskan ada beberapa item yang dijadikan bahan lukisan mereka antara lain seperti Manjala (Menangkap Ikan), Manggore (Mencari emas dengan saringan), Tataring (Dapur rumah), manangkup incor (Menangkap ikan incor), marsaba (bersawah) dan lainnya.
“Semua item itu merupakan entitas keseharian orang Mandailing,” katanya, Sabtu (11/12/2021).
Askolani menjelaskan ada beberapa lokasi yang menjadi sampel lukisan mereka antara lain Desa Tambangan Jae, Desa Sibanggor Julu dengan rumah ijuknya, Muara Botung, Manambin, dan Usartolang.
“Kita berharap, lukisan itu bukan sebatas ilustrasi buku saja, Semoga hasilnya bisa mendorong orang untuk lebih mengenal Madina hingga harum tingkat Internasional,” harapnya. (M-08)






