PT SMGP: Logging Sumur Bukan Kegiatan Berisiko Paparan H2S

MADINA, Mohga – pimpinan PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP) memenuhi undangan undangan Bupati Mandailing Natal, Muhammad Jafar Sukhairi Nasution terkait pemaparan kegiatan sumur T-11 pada Kamis (21/9/2022) kemarin di aula setdakab Madina.

Bupati Madina H. Muhammad Jafar Sukhairi Nasution memimpin rapat bersama PT SMGP dan dengan ormas maupun OKP di Madina

Penjelasan diawali dengan kegiatan SMGP secara umum oleh Kepala Teknik Panas Bumi SMGP Terry Satria Indra. Dalam kesempatan tersebut, Dr Yan Tang selaku President Director KS Orka Renewables – perusahaan induk dari SMGP menyampaikan,

“Kami berterima kasih atas dukungan pemerintah Kabupaten Mandailing Natal dan masyarakat sekitar wilayah operasi, sehingga kegiatan perusahaan dapat berlancar dan mencapai keberhasilan hingga saat ini,” ujarnya

Pada kesempatan itu, PT SMGP menyampaikan hal-hal sebagai berikut, yaitu; PLTP Sorik Marapi saat ini mengoperasikan 2 unit pembangkit dengan kapasitas pembangkitan 90 MW yang membantu meningkatkan kehandalan pasokan listrik di wilayah Sumatera bagian Utara. Dalam rangka pengembangan PLTP Sorik Marapi Unit III, SMGP melakukan kegiatan logging sumur panas bumi T-11 pada 16 September 2022. Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan untuk penyediaan suplai uap PLTP Unit III dengan kapasitas 50 MW.

Kegiatan logging sumur adalah kegiatan rutin untuk mengetahui suhu dan tekanan yang dilakukan dengan memasukkan alat pengukur suhu dan tekanan dengan diameter kurang lebih 1.25 inci, yang kemudian sensor pada alat tersebut mendeteksi suhu dan tekanan, yang terhubung dengan komputer melalui software, dan hasil rekamannya dapat dibaca di layar komputer. Sehingga, kegiatan logging bukan termasuk kegiatan yang berisiko tinggi terhadap paparan gas H2S. 

Selama kegiatan logging pada 16 September, dipastikan sumur dalam kondisi tertutup, tidak ada aliran fluida sama sekali yang keluar dari sumur. PT SMGP juga memastikan bahwa kondisi pengukuran dari alat pendeteksi gas (fixed gas detector) menunjukkan tidak ada H2S atau nol.

Kegiatan logging tersebut berjalan normal, dan pekerjaan sudah selesai, bersamaan dengan adanya laporan warga yang mengeluh mencium bau yang diduga akibatkan keluhan kesehatan. Tujuh dari sembilan warga yang sempat dilakukan observasi tim media di RS Permata Madina dan RSUD Panyabungan telah diizinkan pulang, dua yang dirawat dilaporkan memiliki penyakit bawaan.

Dr Tang juga menyampaikan kontribusi PT SMGP, dan investasi yang telah dikeluarkan untuk proyek SMGP sejauh ini sebanyak Rp. 10,3 T dengan estimasi total Rp 14 triliun sampai proyek selesai nantinya.

“Pemda dan masyarakat adalah pemangku kepentingan berperan penting bagi perusahaan dalam milestone kami, untuk kepentingan masyarakat, kabupaten serta menunjang target produksi energi panas bumi di Indonesia sebesar 5500 MW dalam program transisi energi menuju net zero,” jelasnya

Dengan keilmuan yang dimiliki dan pengalaman staff sebelumnya di Gunung Salak, Darajat hingga lebih dari 200 MW, dimana logging adalah kegiatan rutin, SMGP menyampaikan telah lakukan 250 logging. Sedangkan pekerjaan pengeboran, uji alir sumur, dipastikan untuk disoisalisasikan kepada warga. Dalam beroperasi, SMGP berkomitmen penuh dalam keselamatan kerja dan SOP, yang berkala dilakukan evaluasi pihak berwenang termasuk EBTKE, dan dalam pelaksanaannya juga melibatkan ahli berbagai negara dalam pelaksanaan termasuk Iceland, Turki dan negara lain.

KS Orka sebagai pemegang saham mayoritas SMGP berharap operasional dalam rangka produksi Unit III dapat berjalan lancar dengan dukungan semua pihak sehingga tetap dapat memberikan manfaat bagi semua pemangku kepentingan di sekitar wilayah operasi.

Namun, KS Orka akan lakukan evaluasi secara menyeluruh baik aspek teknis maupun sosial kemasyarakatan untuk memutuskan kelanjutan pengembangan SMGP ke tahap Unit IV dan V. Selain SMGP, KS Orka juga mengoperasikan lapangan panas bumi Sokoria melalui anak perusahannya Sokoria Geothermal Indonesia (SGI) dan melakukan eksplorasi pada 7 lapangan panas bumi lainnya di Indonesia. Sejumlah proyek panas bumi tersebut bisa menjadi alternatif investasi di sektor panas bumi untuk KS Orka disamping proyek lainnya yang tengah dikembangkan oleh perusahaan di negara lain seperti Turki, Amerika Serikat dan Kenya.

Hadir dalam forum tersebut pemerintah Kabupaten Mandailing Natal antara lain Ketua DPRD, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kepala Kejaksaan Tinggi, Ketua Pengadilan Negeri, Sekretaris Daerah, Kapolres, Dandim 0212/TS, Ketua PWI, berbagai perangkat desa, tokoh masyarakat, dan organisasi masyarakat dan kepemudaan. Semua pihak juga sepakat mengusulkan dibentuknya tim ahli investigasi penyebab dugaan keluhan kesehatan untuk akhiri ketidaknyaman warga.

Menanggapi usulan positif tersebut, Riza Pasikki COO CTO PT SMGP menjelaskan,

“Untuk mengetahui fakta menyeluruh nantinya, SMGP mengusulkan untuk dilakukan beberapa langkah, antara lain reka ulang kejadian oleh tim, SOP, sumur dan alat yang sama seperti saat kegiatan logging tanggal 16 September, untuk memastikan bahwa kegiatan tersebut aman. Kegiatan ini nantinya akan dilakukan dengan berkoordinasi dengan tim EBTKE dan Dinas Lingkungan Hidup untuk kemudian laporan disampaikan ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral,” kata Riza

Pasikki menambahkan bahwa terkait 14 poin rekomendasi Forkopimda sebelumnya,

“SMGP tengah berproses menjalankan program-program tertera dalam rekomendasi tersebut, yang juga kami sampaikan melalui surat tanggal 5 Juli lalu. Hanya poin bonus produksi saja yang kami tidak dapat penuhi karena kaitan dengan Peraturan Pemerintah,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Kepala Teknik Panas Bumi SMGP Ali Sahid menambahkan

“Kami sangat hargai keberadaan warga sekitar kami, dan sudah tanggung jawab kami untuk membina hubungan baik dan hidup berdampingan dengan warga. Kami akan menyelesaikan tali asih sebagai itikad baik kami bagi warga,”

SMGP akan terus lakukan pengawasan dan akan menyampaikan perkembangan selanjutnya. (MN-08/rel)