Petani Hutabaringin Menjerit, Jatah Pupuk Subsidi Dipangkas Setengah

MADINA – Para petani padi di Desa Hutabaringin, Kecamatan Panyabungan Barat, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) mengeluhkan pemotongan kuota pupuk bersubsidi. Jatah yang biasanya mereka terima sebesar 50 kilogram (1 sak) per orang, kini merosot tajam menjadi hanya 25 kilogram (1/2 sak).

Berdasarkan pantauan di area persawahan Hutabaringin, pengurangan jatah pupuk jenis Urea dan NPK Phonska ini sudah terjadi dalam beberapa kali masa penyaluran oleh kios pengecer resmi, UD Risko.

“Biasanya kalau petani punya lahan satu bunbun, dapat jatah satu sak isi 50 kg. Tapi dalam dua kali penyaluran terakhir, kami hanya diberi setengah sak atau 25 kg,” keluh salah seorang petani setempat.

Keluhan tersebut dibenarkan oleh Ketua Naposo Nauli Bulung (NNB) Hutabaringin, Muhammad Fauzan. Ia menyebutkan bahwa pembatasan kuota ini terjadi berturut-turut dalam waktu singkat di saat petani sangat
membutuhkan pasokan.

“Sepuluh hari lalu pihak kios membagikan setengah sak ke setiap petani, dan hari ini jumlahnya masih sama. Padahal, kebutuhan pupuk di tingkat petani saat ini masih sangat kurang,” ujar Fauzan.

Fauzan menambahkan, mayoritas masyarakat Desa Hutabaringin menggantungkan hidupnya sebagai petani padi. Saat ini, wilayah tersebut tengah memasuki musim tanam, sehingga pupuk menjadi kebutuhan yang sangat mendesak.

Selain masalah kuota, Fauzan juga menyentil persoalan harga pupuk Urea bersubsidi yang dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), yakni dari Rp90.000 menjadi Rp95.000 per sak.

Merespons keluhan tersebut, pihak kios UD Risko selaku penyalur resmi angkat bicara. Mereka membenarkan adanya pengurangan jatah, namun menegaskan bahwa langkah tersebut diambil sebagai solusi darurat agar seluruh petani yang terdaftar dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) tetap kebagian pupuk.

“Kami mengurangi jatah bukan tanpa alasan. Kebijakan ini diambil karena pupuk yang kami tebus ke pihak distributor belum seluruhnya masuk ke kios,” ungkap perwakilan UD Risko saat ditemui di tokonya.

Pihak kios turut membeberkan data tersendatnya pasokan tersebut. Untuk pupuk urea, dari total 400 sak (20 ton) yang telah ditebus, baru masuk sebanyak 200 sak (10 ton). Pupuk Phonska, dari total 500 sak yang ditebus, baru masuk sebanyak 150 sak.

“Kami sebenarnya ingin semua pupuk yang sudah ditebus langsung dikirim seluruhnya, karena modal kami jadi tersendat di sana. Kami memastikan sisa jatah petani akan tetap disalurkan secara utuh setelah sisa barang dikirim oleh distributor,” lanjutnya.

Pihak UD Risko memperkirakan sisa pasokan pupuk subsidi tersebut akan tiba di kios pada pekan ini atau paling lambat setelah perayaan Iduladha 1447 H / 2026 M. (FAN)