Panyabungan| pasca viralnya tanaman bunga jenis monstera (keladi) atau populer dengan sebutan ‘Janda Bolong’ turut berimbas ke seluruh penjuru Nusantara, tak terkecuali dengan masyarakat di Kabupaten Mandailing Natal (Madina).
Hal itu terlihat dengan semakin gemarnya masyarakat terutama kaum ibu untuk mengoleksi jenis tanaman hias tersebut.
Selain jenis keladi, beberapa jenis bunga hias yang turut menjadi favorit kaum ibu yaitu seperti kaktus, aglonema, anyelir, begonia, dragon velvet dan lain sebagainya.
Bukan hanya sebatas hobi, dengan tingginya peminat bunga hias ini pun telah dimanfaatkan sebagai lahan bisnis oleh sebagian masyarakat di masa pandemi covid-19. kesempatan tersebut menjadi berkah dan hikmah bagi para penjual bunga hias.
Seperti yang dilakukan Fitri (39), seorang penjual bunga hias yang harus menempuh perjalanan dari Bonjol, Pasaman Timur, Sumatera Barat menuju Panyabungan, Madina untuk memasarkan dagangannya di tepi Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) dekat pasar baru Panyabungan.

Ibu 5 orang anak ini datang bersama 3 saudaranya ke Madina 2 kali dalam seminggu dengan memuat berbagai jenis tanaman hias.
Menurut Fitri, sejauh ini bunga hias yang paling diminati masyatakat Madina yaitu jenis monstera/keladi atau Janda bolong.
“Iya, tiap dua kali seminggua kami ke Madina, akhir-akhir ini kami datang tiap Senin dan Kamis. Sampai di Panyabungan sekitar pukul 06:00 Wib pagi dari Bonjol, baru Magribnya kami pulang lagi. Kan dekat, jadi gak perlu menginap. Kami ke Madina baru 7 kali.
“Yang paling laris itu jenis monstera atau disebut Janda Bolong karena sempat viral, selain itu jenis kaktus, aglonema, krokot juga banyak peminatnya,” ujarnya.
Untuk harga bunga hias yang dijual Fitri pun variatif, mulai dari Rp 10 ribu bahkan sampai 400 ribu tergantung jenis, ukuran bahkan jumlah daunnya.
“Kalau yang jenis kaktus itu ada yang Rp. 10 ribuan, tergantung ukuran sama jenisnya sih. Kalau jenis janda bolong, itu yang kecil kita banderol harga Rp. 15 ribu /daun,” sambung Fitri.
Menurut Fitri, meski omset penjualan menurun akibat jumlah saingan yang semakin banyak, pendapatan dari hasil menjual bunga ini masih bisa mencapai jutaan rupiah per harinya.
“Kalau dulu sebelum ada saingan, dalam satu hari kita bisa dapat untung Rp. 3 juta/orang dikali 4 orang. Sekitar Rp. 12 juta/ hari lah. Kalau sekarang kan sudah banyak siangan, jadi penjualan jelas turun. Tapi kita masih bisa dapat keuntungan Rp. 1,5juta/orang setiap harinya,” terang Fitri.
“Pembeli dari kalangan umum, pegawai, guru, ada juga istri dari DPRD Madina yang beli,” pungkas Fitri. (MN-07)






