MADINA, Mohga – Sejumlah petani karet di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) akhir-akhir ini mulai merasa cemas dan dihantui keresahan. Pasalnya, harga jual karet terus menurun ditengah kenaikan harga bahan bakar minyak ( BBM) serta bahan kebutuhan pokok sehari-hari.
Belum diketahui penyebab turunnya harga jual karet tersebut. Yang jelas kondisi itu sudah berlangsung dalam minggu-minggu terakhir ini. Belum stabilnya harga karet membuat para petani karet di daerah ini semakin terjepit karena penghasilannya sangat jauh berkurang.
Informasi dihimpun di pekan Kotanopan Sabtu (10/9/2022) kemarin, dalam dua pekan terakhir harga karet dijual kepada para pedagang pengepul turun drastis hampir mencapai 40 persen. Turunnya harga karet rakyat ini tentunya semakin melengkapi penderitaan rakyat karena sangat mempengaruhi penghasilan petani.
Harga karet rakyat di pasar penjualan karet Kotanopan pada hari itu hanya dikisaran Rp 7.000 – Rp 7.500 perkilogram. Harga ini tentunya tidak sebanding dengan harga 1 kg beras yang mencapai Rp. 11.000 lebih, lain lagi dengan harga cabe merah yang semakin pedas. Sementara pada dua bulan lalu harga pernjualan karet di daerah itu berkisar Rp 9000- Rp 10.000 perkilogramnya.
“Turun drastis dua pekan ini. Biasanya kita jual Rp10 ribu per kilogram, sekarang cuma Rp 7.000 sampai Rp 7.500 kita jual ke pengumpul,” ujar Nurhalimah (40), salah seorang petani karet Kotanopan yang di jumpai usai menjual karetnya.
Ia mengaku sangat tertekan dengan harga karet yang terus menurun, karena harga karet tidak sebanding lagi dengan harga beras. Padahal, untuk saat ini profesi yang dilakoninya bersama suaminya hanya semata-mata penyadap pohon karet. Untuk mencari pekerjaan lain saat ini sangat sulit. Ia pun berharap agar pemerintah bisa mengontrol harga karet ini agar jangan lagi turun, minimal bisa bertahan dikisaran Rp.10 ribu seperti harga dua bulan lalu.
“Harga karet terjepit, petani karet menjerit, kami hanya butuh solusi kongkrit. Bayangkan saja, hasil dari menyadap karet sekarang tidak mencukupi untuk biaya kebutuhan sehari hari. Belum lagi untuk biaya anak sekolah, tentunya sangat jauh dari kurang” ujarnya.
Selain Nur Halimah, petani karet lainnya, Yusuf Lubis (58) juga merasakan dampak penurunan harga karet ini.
“Penghasilan kita jelas berkurang dengan harga seperti ini,” ujar Yusuf sedih.
Sebelum harga karet turun, Yusuf bisa menghasilkan 30 hingga 40 kilogram getah kering per minggu dari sekitar 200 pohon karet miliknya.Seharusnya, dengan harga Rp 10 ribu per kilogram, Yusuf bisa memperoleh penghasilan Rp 300 ribu hingga Rp 400 ratus ribu per minggu.
“Namun, dengan harga saat ini ia hanya memperoleh Rp 210 ribu hingga Rp 280 ribu saja. “Beratlah biaya hidup keluarga dan juga biaya anak-anak untuk sekolah ,” lanjutnya.
Petani lainnya bernama Hasan mengaku bingung mau makan apa karena memang harga-harga bahan pokok dan BBM tidak sebanding dengan penghasilan harian dan mingguannya. Kendaraan yang kami bawa ke ladang untuk menderes karet membutuhkan BBM. Kenaikan harga BBM benar-benar membawa dampak bagi petani karet.
“Kami harus lebih pandai-pandai mengatur pengeluaran dan mencukupi pendapatan agar tetap bisa makan dan mencukupi kebutuhan anak-anak kami sehari-hari,” ujarnya
Zulhamdi Lubis, salah seorang pengepul karet di Kotanopan yang di jumpai membenarkan harga karet untuk Minggu ini di kisaran Rp. 7000/kg. Harga ini turun Rp. 500 dari Minggu lalu.
Menurutnya, penyebab turunnya harga karet ini karena secara global memang harga karet turun. Tapi yang jelas, turunnya harga karet dua Minggu terakhir ini juga berimbas dengan menurunnya jumlah karet yang di jual warga di pasar penjual karet di Kotanopan. Dari hasil bincang bincang dengan petani karet, rata- rata warga enggan menderes karetnya disebabkan harga yang sangat murah.
Pantauan Mohganews juga menunjukkan bahwa rendah harga karet saat ini telah memberikan dampak yang mengakibatkan turunnya pendapatan petani per bulan, turunnya kemampuan investasi petani, turunnya daya beli petani, serta pengalihan sumber penghasilan petani kepada sumber penghasilan selain usaha tani karet.
Bahkan telah terjadi pengalihan fungsi lahan dari usaha tani karet ke tanaman lain yang dinilai petani lebih prospektif. Oleh karena itu diperlukan upaya-upaya agar bisa bertahan dalam kondisi harga karet yang rendah saat ini. (MN-10)






