MohgaNews| Dia, kalau masih ingat sih, kawan seperjuangan di jakarta. Ketika itu, kami masih lugu dan minim pengalaman. Teman-teman mempercayai dia sebagai bendahara umum, saya Ketua Umum. Kami bergaul di lingkup kampus yg unik yaitu IISIP Jakarta — boleh pake sendal jepit dengan mahasiswa yang heterogen, termasuk yang datang dari Timur Leste, Maluku dan Papua. Kami tetap punya kesadaran dan orientasi primordial untuk “menaklukkan” jakarta bersama teman-teman sahuta, termasuk yang dari tapsel, bergerak mendirikan wadah Ima Tapsel Jakarta pada 1994.
usai kuliah, dia balik ke Panyabungan. saya masih bertahan di bogor-jakarta, hingga 1997.
saya dengar dia sempat jadi reporter, sekalipun ketika ketemu, dia sudah bikin terobosan besar untuk alih profesi dan merintis usaha sendiri yang survive hingga sekarang.
saya kira, walau teramat jarang ketemu — sekalipun sudah bertahun-tahun sama-sama domisili di kota kecil Panyabungan, hubungan persahabatan kami cukup istimewa.
Dalam pandangan saya, dia termasuk seorang perempuan yang sudah mapan dan dengan kematangan itu dia punya kemuakan tersendiri atas realitas politik, termasuk karir saya yang saat itu sempat jadi anggota dewan (DPRD Madina) pengganti.
makanya, saat dapat kabar, dia termasuk calon anggota DPRD Madina dari Partai Golkar, saya tak langsung percaya. Tapi, begitulah, saya mungkin salah menilai.
Lalu, saya pun dapat banyak cuplikan cerita, dia termasuk caleg yang sangat diperhitungkan di Dapil Madina 5 dengan basis dukungan Nagajuang dan sekitarnya.
eh…, pada masa DCS (Daftar Caleg Sementara), dia tiba-tiba kontak menanyakan apakah saya memang gak masuk DCS. saya bilang, biar sajalah dan dia nampaknya sudah paham, terkadang wajah politik tampak kejam, keji dan menakutkan sebagian orang. “Sabar aja bang,” katanya.
beberapa hari sebelum pelantikan dan pergantian anggota DPRD Madina dari periode 2014-2019 ke periode 2019-2024, saya mantapkan sikap untuk tetap hadir. walau lebih banyak teman anggota DPRD Madina masa jabatn 2014-2019 yang absen, saya kira gak ada masalah. toh saya sudah bisa mengatasi perasaan saya sendiri dan anggapan-anggapan orang, termasuk mereka yg memang hendak menusuk saya dalam rangkulan.
sudah mantap, hadir dan gak mau terenyuh karena penyesalan-penyesalan kawan atas nasib saya hari ini. Memang, saya sempat selfi dan bikin status berisi ucapan selamat bekerja di medsos. ya, hampir datar-datar sajalah, hampir-hampir tanpa luapan emosi. Tapi, ketika hendak memberi ucapan selamat kepada Ibu Zubaidah Nasution, saya gagal menahan emosi, saya sangat terharu dan tak kuasa menahan luapan rasa senang serta bangga. mata saya terasa panas dan perih. tapi, saya kira, gak kelihatan itu.
saya pikir-pikir lagi, saat terharu itu berarti rasa bangga yang sangat. walau saya harus pergi, seolah beliau datang untuk menggantikan saya.
memang, walau masih belum cukup populer, sesungguhnya dia memang perempuan istimewa. setidaknya, di mata saya, dia sudah membuat banyak terobosan yang patut dapat acungan dua jempol.
Pertama, itu tadi, merintis usaha sendiri dan sukses.
Kedua, terobosan dalam pandangan dan sikap-tindak politiknya. Artinya, dia tahu politik itu bisa tampak seram dan, saya yakin, dia sudah siap.
Ketiga, sebagai seorang ibu, dia juga sudah menerobos sekat-sekat gender dalam dua keluarga besarnya, setidaknya dapat dipahami untuk bersiap mengisi kealfaan politik yang masih terlalu pathriarkis.
Keempat, berhasil meyakinkan konstituen termasuk yang laki-laki bahwa perempuan mampu berpolitik dan langit politik Madina membutuhkan itu.
Kelima, sukses mengimbangi dominasi politik caleg laki-laki, termasuk di internal partainya.
Terus, keenam, saat berdampingan dengan suaminya dalam acara pelantikan itu, dia tetap menjadi perempuan feminim yang bisa tetap bersikap sangat hormat dan sangat menghargai. tentu saja, ini tak mudah.
Selanjutnya, Ketujuh, dengan adaptasi yang cepat, dia juga bakal bikin terobosan untuk lebih banyak menyuarakan kepentingan kaum perempuan Madina. Sebab, selama ini, aspirasi perempuan masih teredam di sudut-sudut Dapil dan pelosok kota-desa serta tertahan di gedung dewan dengan sekat-sekat fraksi/komisi.
selamat bekerja, Ibu Dewan Zubaidah Nasution
Oleh: Ludfan Nasution












