MADINA, Mohga- Penyebab harga beras merangkak naik di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) akhirnya terjawab. Owner UD. Kilang Padi Sirintop Ni Eme, Duhani yang beralamat di Desa Pidoli Lombang Kecamatan Panyabungan mengungkap penyebab kelangkaan tersebut.
Duhani mengatakan, kelangkaan beras terjadi di Kabupaten Madina mulai sejak bulan Juli 2023 hingga sekarang. Produksi beras dari petani padi semakin berkurang akibat cuaca di pertengahan tahun kemarin kemarau yang signifikan dan panjang.
“Mulai Maret tahun ini kan cuaca panas yang berkepanjangan, makanya tanah pertanian menjadi kering sampai retak-retak. Otomatis produksi hasil tanaman padi berkurang akibat kekurangan air,” katanya kepada Mohganews.
Duhani mengakui, sebulan terakhir ini terhitung sejak awal Agustus, dia kesulitan mencari gabah untuk diolah di kilang padi miliknya untuk dijual di toko berasnya. Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, dia terpaksa memesan beras dari Provinsi Lampung.
“Kita kan ada juga mesin penggiling padi di Pidoli Lombang ini, biasanya juga membeli gabah dari petani padi Madina untuk diolah dan dijual. Rupanya ketersediaan gabah di Madina langka, makanya kita beli dari Lampung dengan harga yang cukup tinggi,” ujarnya.
Pengusaha beras ini menyebut, untuk harga beras varietas padi ’64’ dijual seharga Rp 14 ribu per kilogram. Harga tersebut otomatis akan naik apabila dijual di tingkat pengecer.
“Kita jual beras varietas padi 64 Rp 14 ribu perkilogram, beras lokal Rp 13.500 perkilo. Harga ini paling murah apabila dijual setingkat grosir. Kalau di pengecer bisa mencapai Rp 16 ribu perkilogram,” jelasnya.
Duhani juga mengungkap data penjualannya. UD. DH Pidoli Lombang membutuhkan 70 ton beras untuk menutupi kebutuhan langganan yang datang dari sejumlah kecamatan yang ada di Madina.
“Setiap pekan kita order dari Lampung, 70 ton dalam seminggu. Kecamatan Panyabungan, Batang Natal, Panyabungan Timur dan lainnya sudah menjadi langganan tetap kita,” imbuhnya.
Dia mengakui kelangkaan beras bukan hanya terjadi di Kabupaten Madina, tetapi sudah menginjak titik internasional.
Pasalnya, awal tahun 2023, dia juga kebagian beras non subsidi dari pemerintah luar negeri yang dibelanjakan di Kota Medan.
“Dulu ada juga beras dari Thailand, Singapore dan negara lainnya di jual di Indonesia. Saya sering membeli untuk dijual, harganya murah, dan berkualitas beras lumayan enak dan bagus. Tetapi sampai hari ini beras tersebut tidak diperoleh lagi. Ini kan suatu tanda pertanian secara internasional sedang terpuruk,” terangnya. (MN-08)












