Atika: Penurunan Angka Stunting Jangan Hanya Formalitas

MADINA, Mohga – Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina) Atika Azmi Utammi Nasution secara tegas mengatakan penurunan angka Stunting di Madina jangan hanya formalitas saja bagi seluruh petugas diseluruh tingkatan.

Atika menjelaskan ada tiga faktor yang harus ditegakkan secara maksimal dalam penurunan Stunting diantaranya intervensi gizi spesifik, pendekatan multipihak dan multisektor serta pendekatan terhadap keluarga beresiko Stunting untuk petugas di tingkat kecamatan dan desa.

“Semua langkah percepatan penurunan Stunting ini ada petunjuknya yang telah memiliki dasar hukum yang jelas sehingga tidak ada keraguan untuk menuntaskan masalah Stunting. Ini menjadi atensi Pemkab Madina dalam menurunkan Stunting hingga 14 persen di tahun 2024,” katanya, Jum’at (26/5/2023) usai menghadiri kegiatan Rembuk Stunting di Aula Ladang Sari Panyabungan.

Atika juga mengakui pada tahun 2022, Kabupaten Madina mendapat posisi paling tinggi atau paling bontot angka Stunting untuk seluruh Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara.

Sementara tahun 2023, Kabupaten Madina, kata Atika, memiliki peningkatan dalam penurunan angka Stunting yakni sudah berada pada posisi ketiga melewati dua daerah di Sumut.

“Walaupun demikian ini tetap menjadi atensi kami bagaimana menurunkan Stunting sampai 14 persen di tahun 2024 sebagaimana target yang ditetapkan oleh pemerintah pusat untuk seluruh Indonesia,” ujarnya.

Atika juga meminta kepada kordinator kegiatan Rembuk Stunting untuk melaporkan hasil secara tertulis dan diharapkan untuk tidak menganggap acara tersebut sebagai formalitas saja untuk pelaporan ke Provinsi.

“Mari kita perbaiki niat bahwa kita betul-betul ingin menuntaskan dan mengentaskan Stunting dengan tujuan menyelamatkan masa depan anak-anak, Insya Allah,” imbuhnya.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Madina, Elpi Maryani menjelaskan dari 23 Kecematan di Madina, DPPKB meneliti angka Stunting tertinggi berada di wilayah Kecamatan Panyabungan.

“Kecamatan Panyabungan paling tinggi angka Stunting karena jumlah balita di Kota Panyabungan lebih banyak,” jelasnya.

Elpi menerangkan, penyebab seseorang mengidap Stunting bukan hanya pada masalah gizi, akan tetapi lebih dominan pada pengaruh lingkungan dengan contoh sanitasi dan sumber air yang kurang memadai.

“Kita sebagai koordinator terus untuk tidak berhenti memberikan penyuluhan. Kami ada 17 OPD terlibat dalam hal penurunan Stunting ini. Mohon dukungan agar secepatnya Stunting ini dapat kita tekan hingga 14 persen” tutup Elpi. (MN-08)