Oleh: Askolani Nasution – Tentu saja, buat saya wisuda TK, SD, SMP, dan SLTA, adalah berlebihan. Apalagi jika acara itu memberatkan wali murid. Maksudnya mungkin untuk memberi kesan “wah” bagi peserta didik, lalu diposting di medsos, lalu diharapkan akan menjadi daya tarik bagi publik untuk masuk ke sekolah itu.
Itu bagian dari salahkaprah kita menjadikan “viralisme” sebagai sumber kebenaran. Padahal, nilai output sekolah jauh dari tolak ukur murahan begitu.
Tragisnya, masyarakat juga melihat hal begituan sebagai daya pukau. Namanya juga negeri yang salahkaprah. Orang senang melihat murid-murid menari ramai-ramai di halaman sekolah, atau guru-guru berpakaian dinas merekam video bertiktok dagelan. Dan kita melihatnya sebagai hal yang semestinya. Ah, itu repotnya ketika kita kebanyakan nonton film Korea dan India.
Sekolah saya pikir adalah institusi yang semestinya berorientasi pada “rumah ilmu”. Satuan nilainya seharusnya pada alat ukur pencerdasan. Misalnya ada ruang praktikum yang representatif dan anak-anak yang sedang khusuk praktik labor. Ada ruang perpustakaan yang juga reperentatif sebagai ruang baca: jumlah koleksi, sarana, dan seterusnya. Ada guru yang kompetensinya teruji, sarana belajar, lomba keilmuan, dan seterusnya. Atau ada kurikulum tambahan yang menjadi nilai plus lulusan. Misalnya kelas internasional, eskul yang variatif, dan sebagainya. Bukan pada satuan-satuan inaugrasi yang wah, tapi palsu.
Berbeda dengan perguruan tinggi. Sarjana konotasinya dulu adalah orang yang sudah parpurna ilmunya dalam berbagai bidang. Mereka generalis.
Lalu menyempit maknanya menjadi orang yang sudah lulus pendidikan tinggi dengan satu bidang keilmuan yang mendalam. Karena itu, sejak tradisi Yunani, mereka dikukuhkan keilmuannya. Maka jadilah wisuda, dengan toga yang khas, dan pemindahan tali toga ke belahan kanan.
Prosesi itu sakral. Karena itu, sekalipun seseorang telah resmi menyandang gelar sarjana ketika ia lulus sidang meja hijau (bukan sidang skripsi, karena itu juga mengecilkan makna meja hijau), banyak orang masih merasa mesti wisuda. Karena wisuda identik dengan pengukuhan ilmu yang sudah paripurna.
Lah, lembaga di bawah PT, masa merendahkan makna wisuda, padahal ia tahu lulusannya belum paripurna keilmuannya? Viralisme dalam dunia pendidikan mestinya untuk siswa berprestasi dalam lomba keilmuan. Bukan dalam kekonyolan yang tak berhubungan dengan kualitas lulusan.
Tapi dasar di negeri bedebah, kita dengan mudah mengagumi sesuatu tanpa melibatkan kewarasan berpikir kita. Karena itu, hal terburuk dari kita sebenarnya adalah merendahkan tradisi berpikir yang dulu menjadi potensi pendiri bangsa ini.
Penulis adalah Budayawan dan Sastrawan yang tinggal menetap di Mandailing Natal






