MADINA – Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina), Atika Azmi Utammi Nasution, memberikan pesan khusus kepada para tenaga pendidik terkait pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah sekolah, Atika meminta guru untuk tidak langsung memviralkan temuan menu atau porsi makanan yang dianggap tidak sesuai standar di media sosial.
Atika menekankan pentingnya jalur komunikasi formal dan koordinasi sebelum mengambil langkah publikasi. Menurutnya, pihak sekolah seharusnya memberikan teguran langsung kepada penyedia layanan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) jika ditemukan ketidaksesuaian.
“Saya minta, kalau ada yang tidak sesuai menu MBG ini, jangan langsung diviralkan di media sosial. Para guru bisa komplain langsung ke penyedia (SPPG). Jika sudah tiga kali diingatkan namun tidak ada perubahan, baru silakan (diviralkan),” tegas Atika saat meninjau distribusi MBG.
Lebih lanjut, Atika mengingatkan bahwa program MBG dibiayai oleh uang negara dan memiliki regulasi ketat di bawah Badan Gizi Nasional (BGN). Ia menggarisbawahi bahwa prioritas utama program ini adalah pemenuhan standar nutrisi, bukan sekadar cita rasa.
“Kita harus mengikuti aturan negara melalui BGN. Saya tidak ingin program Makan Bergizi Gratis ini justru bergeser menjadi sekadar ‘makan enak gratis’. Gizi dalam makanan ini harus benar-benar tercukupi untuk siswa, guru, dan sasaran lainnya,” tambahnya.
Dalam kunjungan tersebut, terungkap fakta bahwa mayoritas guru belum memahami rincian Angka Kecukupan Gizi (AKG) dalam menu yang disajikan. Selama ini, pihak sekolah hanya berperan sebagai pengawas administratif yang memberikan penilaian nota terkait penyajian makanan, tanpa mendapatkan informasi detil mengenai kandungan gizi dari pihak penyedia.
Merespons hal itu, Atika mendorong para guru untuk lebih proaktif dalam mempelajari literasi gizi agar fungsi pengawasan di lapangan berjalan maksimal.
“Ibu-ibu dan bapak guru juga perlu belajar tentang angka kecukupan gizi pada makanan. Dengan begitu, kita bisa memastikan anak-anak kita mendapatkan asupan yang tepat sesuai standar yang ditetapkan,” pungkasnya.
Sebagai informasi, hasil sidak ditemukan sejumlah fakta lapangan yang menunjukkan kualitas sajian MBG yang masih berada di bawah standar BGN.
Atika pun meminta pihak sekolah dan koordinator wilayah (Korwil) bersikap tegas jika pihak penyedia tidak mengikuti aturan. “Selama itu tidak sesuai juknis, kami berharap Korwil bisa mengambil keputusan,” imbuhnya. (FAN)






