Pilkada Madina: Visi Dialog Mendesain Kota

0
720

Oleh: Datuk Imam Marzuki, Dosen STAIN Madina

Pemilihan kepala daerah Kabupaten Mandailing Natal dalam hitungan bulan nantinya akan selesai. Maka dengan alasan kebersamaan dan kemajemukan, hiruk pikuk dukung mendukung kandidat selesai dengan sendirinya. Realitasnya dari perekrutan kandidat, itu umumnya berlangsung dalam mekanisme demokrasi. Walaupun pilkada tahun ini terasa begitu menghangat, masing-masing pendukung calon bupati sudah mulai saling sindir. Situasi ini harus segera diakhiri dengan melakukan dialog antar pendukung dengan masing-masing visi misi cerdas untuk membangun Madina dari para calon bupati. Terutama para pemuda pemudi Mandailing Natal yang masih tinggi semangatnya merespon opini politik dengan membawa semangat perubahan bagi tanah kelahirannya yaitu Mandailing Natal. Maka perlu diadakan dialog yang terfokus membicarakan berbagai masalah pembangunan yang menyangkut kehidupan masyarakat sekitar. Hasil-hasil dialog yang semacam ini merupakan modal yang sangat besar bagi pembangunan, terutama ibu kota Madina, yaitu Penyabungan.

Gagasan menciptakan kualitas rancangan gerbang kota Madina adalah wujud imajinasi masyarakat Mandailing Natal, yang dimanifestasikan dengan indentitas dan representasi kota modern. Serta menyandang fungsi pubik, fungsi informatif, fungsi rekreatif dimana makna dan simbol fisik kawasan, akan diwujudkan oleh peran gerbang ibu kota itu sendiri. Fungsi gerbang kota akan menjadi penting mengingat sepanjang koridor kawasan ini nantinya akan menjadi kawasan pariwisata, perdagangan dan jasa. Sebaliknya kita semua mengetahui penanganan ruang publik membutuhkan biaya tinggi, sehingga menjadi masalah dari segi pembiayaan. Maka berefek kepada penerapannya, seakan dikatakan memimpin setengah hati, dikarenakan penanggung jawab pengelolaan ruang publik seolah-olah hanya dipundak Pemerintah Kabupaten. Sementara kita ketahui “beban” anggaran belanja dalam bentuk APBD Pemkab Madina yang harus ditanggung masih sangat banyak.

Maka dibutuhkan pemberdayaan langsung dari masyarakat untuk megelola ruang publik. Ide ini harus digalakkan, dengan model sharing management antara Pemerintah dan masyarakat. Sehingga banyak ruang publik di Penyabungan bisa terawat. Sebagai contoh, coba kita perhatikan lingkungan perumahan, dengan penanganan ruang publiknya lebih baik karena partisipasi dan swadaya masyarakat lebih bergairah. Maka bagi kaum muda, jangan terjebak pada fanatik pseudo democracy, apalagi terdistorsi oleh kepentingan-kepentingan pragmatik elit, sehingga kualifikasi kandidat bupati Madina yang berkaitan dengan kompetensi misi, dan akuntabilitas visi calon bupati tenggelam, diperankan kepenting-kepentingan jangka pendek elit.

Kawasan pendidikan Mandailing Natal misalnya, ini harus menjadi perhatian utama bagi calon kepala daerah Mandailing Natal. Ia akan memberikan kesan pertama bagi pemerhati pendidikan saat memasuki kawasan ini. Dengan demikian jalur ini semestinya menjadi ‘penanda’ yang memberikan informasi tentang tempat para pelajar hilir mudik di seputaran kawasan pendidikan di Mandailing Natal. Sehingga dengan kepedulian para calon pemimpin Madina di kawasan pendidikan ini berpeluang menjadi gerbang dan simbol Kota Santri. Atau sebaliknya kawasan ini belum mampu menunjukan kekuatannya sebagai gerbang dan simbol kota bagi pelajar tersebut. Padahal ragam keindahan lintasan kawasan tersebut yang dikelilingi hamparan sungai dan ruang terbuka hijau, seakan merepresentasikan wajah surgawi di kawasan pendidikan tersebut. Seharusnya potensi fisik kawasan yang menjadi ‘image’ ibu kota Mandailing Natal mencerminkan wajah kota yang mudah dikenali. Kawasan tersebut idealnya memberikan kesan, untuk ‘mengundang’ bagi pendatang yang akan memasuki Kota Penyabungan. Begitu juga dengan adanya rekomendasi tempat wisata kuliner yang memiliki kontak fisik dan visul daerah tepian air.

Ini juga peluang bagi para jurnalis media cetak, media elektronik, dan akademisi mempublikasikan secara ilmiah untuk menerbitkannya ke dunia internasional. Karena ini merupakan ruang publik yang secara alami dianugerahkan Tuhan, yang dapat mewadahi kepentingan masyarakat umum. Idenya adalah meyakinkan investor, dengan melakukan komunikasi ke berbagai kolega. Hasilnya nanti adalah perancangan arsitektur kawasan terarah, mengedepankan desain budaya khas Madina, dengan estetika bentuk, kenyamanan dan alhasil pengunjung akan menikmati ruang keindahan surgawi tersebut. Selanjutnya tertatanya ruang pejalan kaki bagi pelajar dan mahasiswa, sirkulasi kendaraan dan kebutuhan parkir. Begitu juga alun-alun yang ada disetiap taman kota, atrium yang terbentuk diantara bangunan, pasar buah dan sayur tertata, maka tujuan ornamen keindahan tersebut akan menjadi kenyataan bagi Mandailing Natal.

Jika kita lihat situs penyedia panduan berwisata, bernama Rough Guides, merangkum 20 negara yang terindah di dunia, Indonesia masuk peringkat enam sebagai negara paling indah di dunia. Adapun daftar 20 nama negara ini dibuat peringkat berdasarkan voting atau pemilihan suara warganet dari seluruh dunia. Voting ini dilakukan Rough Guides untuk membantu wisatawan memilih tempat yang akan dikunjungi atau tempat untuk berlibur. Indonesia terpilih di urutan keenam, karena keindahan Indonesia yang membuat para wisatawan terkesan. Bisa jadi Mandailing Natal salah satu daerah yang menjadi kekaguman turis internasional dengan alamnya yang mengundang pesona untuk dikunjungi. Dengan banyaknya spot objek wisata yang alami, begitu juga situs budaya dan bersejarah, spot gunung, pantai, sampai air terjun yang sangat memanjakan mata.

Begitu juga dalam memilih perguruan tinggi, kualitas pendidikan memang jadi hal yang utama. Jika saja kampus, seperti STAIN Madina disekelilingnya punya pemandangan yang indah bisa menjadi poin plus. Kuliah di tempat taman yang asri, bak film Beauty and the Beast, karena lingkungan kuliah bisa mempengaruhi mood belajar seseorang. Sama seperti kuliah di universitas internasional berkelas dunia dengan keindahan lingkungan sekitar, seperti universitas Oxford. Kampus ini merupakan universitas yang memiliki alam yang sangat indah. Universitas ini sangat produktif dalam mencetak orang-orang terkemuka dari seluruh dunia. Arsitektur bangunan megah ditambah lingkungan alam yang bersih membuat Universitas Oxford sangat menarik dengan berbagai keindahannya. Lahan terbuka yang cukup luas di samping sungai Thames. Tempat ini sangat cocok untuk bersepeda atau lari pagi. Masih di kampus Oxford tepatnya di Magdalen Bridge, ada jembatan yang sangat cocok jika ingin menyendiri atau sekadar melihat dedaunan jatuh saat musim gugur. Jembatan ini akan ramai oleh mahasiswa setiap 1 Mei pada pagi hari untuk perayaan festival May Morning di Oxford. Dulu para mahasiswa melakukan atraksi melompat dari jembatan ke sungai Cherwell. Bayangkan saja jika daerah kawasan pendidikan Mandailing Natal mengadopsi tata ruang pendidikan seperti universitas Oxford, maka kita sudah menjadi daerah tujuan para pelajar nasional.