MADINA, Mohga – Sedikitnya sepuluh hektar lahan tanaman padi di wilayah Saba Payaombur Desa Hutarimbaru-SM Kecamatan Kotanopan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) pada musim panen Agustus 2022 lalu, mengalami gagal panen akibat tidak mendapat pasokan air yang cukup ( kekeringan)
Sejumlah petani termasuk pemilik lahan pada Jum’at (9/9/2022) mengatakan, areal persawahan di wilayah Payaombur itu umumnya sawah tadah hujan.
Meskipun tadah hujan, selama ini lahan persawahan itu tetap mendapatkan pasokan air khususnya air hujan dan ketika panen para petani memperoleh hasil yang lumayan.
Namun pada musim tanam priode Maret- April 2022 lalu, pasokan air yang tidak cukup sudah mulai dirasakan para petani saat menanam padi, debit air dari hulu areal persawahan terus mengecil hingga sebagian besar pengolahan lahan sawah tidak bisa dibuat sempurna karena tidak mendapatkan aliran air.
Kegagalan panen terjadi, menurut para petani, disebabkan oleh cuaca yang tidak menentu membuat para petani sulit dalam memperkirakan waktu untuk mengolah lahan dan memanen. Artinya, naiknya suhu permukaan bumi telah menyebabkan terjadinya kekacauan pola musim, hujan lebat jarang mengguyur khususnya di daerah tersebut.
“Akibat curah hujan minim, kondisi tanaman padi milik petani saat itu kondisinya sangat memprihatinkan. Rata-rata tanaman padi yang berumur satu bulan mengering dan dipastikan gagal panen lantaran tidak mendapatkan pasokan air yang cukup,” ujar Hamdan (50), salah seorang petani setempat.
Ia menjelaskan, karena mengering petani susah mengolah areal persawahannya, kemudian padi sulit tumbuh dengan baik.
“Banyak petani tergolong gagal panen, karena padi yang ditanamnya tidak tumbuh dengan baik dan kalaupun ada tanaman yang tumbuh, bulir padinya tidak berisi,” sebutnya.
Kondisi serupa diutarakan Yusuf Lubis di mana nasibnya tak jauh beda dengan petani lainnya. Dia harus merelakan sebagian lahannya mengalami gagal panen, karena bulirnya terlihat tidak sehat akibat musim kemarau.
Tidak adanya pasokan air lanjutnya apalagi tetesan butiran air hujan tak kunjung turun, telah menyebabkan lingkungan persawahan kering kerontang. Kekeringan mendera saat berkurang dan habisnya cadangan air tersiman di tanah, menyusut dan mengeringnya sungai sumber-sumber air yang berada di hulu persawahan.
“Tanaman padi tidak tumbuh maksimal dan terlihat pendek. Air sangat susah menyebabkan bulir padi tidak berisi penuh. Karena selain tidak adanya air dari hulu lahan pertanian warga, hujan yang diharapkan juga tidak kunjung turun untuk sekedar membahasi tanah, utamanya menyelamatkan tanaman padi,” keluhnya
Ia menjelaskan, cuaca tidak menentu berdampak terhadap lahan seperti munculnya retakan-retakan tanah hingga daun padi mulai mengerut. Padi yang ditanam mulai terancam kekeringan, hujan tak turun dan ini sangat berengaruh terhadap pertumbuhan tanaman padi.
“Dampak dari hujan yang berhenti turun sudah mulai terlihat, dimana tanaman padi mulai mengering. Selain itu, pertumbuhan juga terganggu meski penanam dilakukan diwaktu bersamaan. Disatu petak lahan petani sebagian tanaman ada yang masih subur, sementara dibagian lain ada yang mulai mengering bahkan di petak lain ada padi yang daunnya mulai menguning karena kekurangan air,” terangnya.
Menurutnya, para petani mengaku pasrah dengan kondisi lahan tidak mendapatkan pasokan air. Mulanya petani memprediksi hasil panennya tahun ini lumayan. Namun angan itu kandas, lantaran setiap hari pematang sawah terus kekeringan, akibatnya tanaman rusak dan hasil anen tidak optimal sesuai yang diharapkan.
“Saya melihat banyak petani yang gagal panen karena tak mendapat pasokan air yang cukup. Beda dengan saya, dimana normalnya kami bisa panen 90 kaleng, tapi dengan kondisi seperti ini, hasil panen kami hanya sekitar 30 kaleng ,” tuturnya.
Hasil pengamatan, areal persawahan yang gagal panen, kini sudah mulai diolah petani untuk mengikuti pola atau musim tanam priode September dan Oktober 2022. Para petani berharap hujan segera turun sehingga mereka bisa mengolah areal sawahnya dan padi yang ditanam mendapat pasokan air sehingga dapat tumbuh subur dan dapat berproduksi maksimal.
Tapi yang jelas, pemerintah daerah melalui dinas terkait sudah sepantasnya turun untuk melihat para kegagalan panen petani kawasan Payaombur Desa Hutarimbaru-SM Kecamatan Kotanopan ini. Setidaknya para petani harus dibantu agar bisa kembali menanam lahan pertaniannya, seperti bibit maupun pupuk dari pemerintah. ( M10 )






