Menyoal Keluhan Petani Karet di Madina, Replanting atau Konversi ke Sawit?

OLEH: Irwan H Daulay – Terakhir saya mengkaji masalah harga karet ini dan membicarakan dengan pihak terkait di Pemkab Mandailing Natal (Madina), harus ada upaya mengantisipasi masalah ini baik untuk jangka pendek maupun jangka menengah.

Masalah harga karet ini yang tidak pernah lagi mencapai harga ideal karena masalah permintaan global, baik karena sudah ada komoditi subsitusi yaitu karet sintetis maupun persaingan dengan produsen utama selain Indonesia misalnya Thailand dan Malaysia di mana Supply chain mereka terhadap industri karet ini lebih maju sehingga mereka mampu bertahan.

Berbeda dengan Indonesia upaya pengembangan industri karet ini melemah dengan berbagai alasan, termasuk usia tanaman yang menua dan banyak petani yang merubah tanamannya menjadi tanaman Sawit dan sebagain yang lain tidak sanggup lagi meremajakan karena masalah modal dan harga yang terus merosot.

Khusus di Madina, saat ini ada sekitar 10 ribu ha kebun karet berstatus Tanaman Tidak Menghasilkan (TTM) dan harus segera diremajakan apakah tetap bertahan dengan tanaman karet atau konversi menjadi sawit, hal ini butuh pengkajian sehingga lahir solusi yang akan menyelamatkan petani karet kita dari kehilangan pekerjaan dan pendapatan.

Asumsi tenaga kerja yang terserap dari usaha ini yaitu 0.2 perhektar tentu akan menghilangkan 2.000 kesempatan kerja bagi petani karet Madina dalam beberapa tahun ke depan, oleh karena itu diharapkan Pemkab Madina agar memperhatikan dengan sungguh-sungguh masalah ini.

Banyak solusi yang bisa kita terbitkan jika saja kita lebih banyak berpikir mengurus daerah ini, tentu hal ini membutuhkan komitmen dan kemauan yang tinggi. Apalagi kekuasaan sudah turun hal yang tidak mungkin akan jadi mungkin.

Penulis adalah pengamat ekonomi di Kabupaten Mandailing Natal