Keluhan Petani Karet di Mandailing Natal

Panyabungan| harga karet dalam sebulan terakhir tidak kunjung mengalami kenaikan. Harganya tetap Rp 8 ribu hingga Rp 8.500 perkilogram

Akibatnya, petani karet memilih tidak menyadap karetnya dan sebagian memilih menumpukkan getah karetnya menunggu hingga harga naik.

Situasi ini berdampak pada penjualan pengepul. Seperti yang dialami Ismail (23) pengepul karet di jalan lintas timur Kelurahan Pidoli Dolok Kecamatan Panyabungan, Rabu (6/1/2021)

Kepada MohgaNews, Ismail menyebut harga karet dalam sebulan ini masih normal. Sementara petani berharap harga tersebut naik.

“Mulai dari bulan lalu harga karet Rp 8 ribu hingga Rp 8.500 perkilo, petani tidak banyak yang pergi menderes, sebagian ada yang memilih stok. Biasanya saya bisa mengirim 5 ton dalam seminggu, seminggu ini cuma bisa mengumpul 3 ton,” ujar Ismail sembari mengatakan getah karet yang ia kumpul dijual ke pabrik yang ada di Padang, Sumatera Barat dan terkadang ke Tebing Tinggi, Sumut.

Sementara Palit Gunung (45) penjual karet basah di lokasi pengepulan mengaku penghasilannya setiap pekan tidak cukup untuk membiayai keluarganya.

“Saya belum jual karet saya, masih menunggu harganya naik sedikit lagi agar terbagi untuk keluarga saya, selain dari menjual hasil deresan di kebun orang, saya juga ikut melansir karet orang dari kebun. Gaji untuk melansir Rp 7 ribu satu ember,” ungkap Palit

Warga Kelurahan Dalan Lidang itu mengatakan bahwa dalam seminggu penjualan hanya 50 kilogram

“Anak saya 8 orang pak, semua masih saya tanggung, belum ada yang menikah. Istri saya kerja di kebun orang, penghasilan 50 kg per minggu masih dibagi dengan pemilik kebun,

“Selain dari harga, penghasilan karetnya pun menurun, air pohon karet mulai habis karena pohonnya sudah tua,” tutupnya (MN-08)