Bulang Manuk dan Bulang Pusako Bulang Tonun: Identitas Mandailing yang Hampir Terlupakan

Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan media sosial, sebuah budaya akan semakin dikenal apabila semakin sering diperlihatkan kepada publik. Hari ini, media sosial bukan hanya menjadi tempat berbagi foto dan video, tetapi juga telah menjadi salah satu tolok ukur bagaimana sebuah peradaban dikenali oleh masyarakat luas. Apa yang sering muncul akan semakin dikenal, sedangkan yang jarang diperlihatkan perlahan akan terlupakan.

Bulang Pusako Mandailing

Fenomena inilah yang sedang terjadi pada salah satu warisan budaya Mandailing, yaitu Bulang Manuk dan Bulang Pusako Bulang Tonun. Sangat disayangkan, banyak generasi muda Mandailing, terutama generasi Milenial dan Gen Z, yang belum mengetahui bahwa Mandailing memiliki ragam bulang yang begitu indah dan khas. Sebagian besar hanya mengenal Bulang Lima Tingkat dan Bulang Tujuh Tingkat, padahal di balik kekayaan budaya Mandailing masih terdapat bentuk-bentuk bulang lain yang memiliki nilai estetika, filosofi, dan identitas yang sangat kuat.

Foto sebelah kiri bulang manuk dipakai mempelai pengantin zaman dulu, foto sebelah kanan Bulang Manuk dipakai oleh Zivanna Letisha Siregar Putri Indonesia 2008 di Jakarta 2016

Bulang Manuk dan Bulang Pusako serta bulang Tonun merupakan mahkota adat perempuan Mandailing yang tampil lebih sederhana, namun memiliki karakter artistik yang sangat tinggi.

Kesederhanaannya justru menjadi kekuatan visual yang memperlihatkan keanggunan perempuan Mandailing tanpa menghilangkan nilai adat yang diwariskan oleh para leluhur. Bentuknya yang unik menunjukkan bahwa masyarakat Mandailing sejak dahulu telah memiliki cita rasa seni yang tinggi dalam merancang busana adat.

Bulang pusako si dua, di Mandailing Julu

Secara sejarah, Mandailing merupakan bagian dari wilayah budaya Tapanuli Selatan. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila terdapat banyak kesamaan dalam berbagai unsur adat, termasuk bentuk bulang yang digunakan oleh kaum perempuan. Bulang yang selama ini dikenal dan digunakan secara luas merupakan bagian dari warisan budaya yang tumbuh dan berkembang dalam ruang budaya yang sama. Akan tetapi, di balik kesamaan tersebut, Mandailing memiliki kekayaan yang menjadi identitas tersendiri. Leluhur Mandailing telah mewariskan bentuk bulang yang lebih khas dan memiliki ciri yang membedakannya dari daerah lain, yaitu Bulang Manuk dan Bulang Pusako serta Bulang Tonun.

Sunting Pesisir Natal

Bulang Manuk bukan sekadar hiasan kepala. Bentuk, susunan, dan filosofinya mencerminkan jati diri perempuan Mandailing yang anggun, tangguh, serta memiliki martabat. Demikian pula Bulang Pusako serta Bulang Tonun yang menjadi simbol warisan leluhur, mengandung nilai penghormatan terhadap adat, keluarga, dan kesinambungan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, keberadaan Bulang Manuk dan Bulang Pusako serta bulang tonun semakin jarang dikenal, terutama oleh generasi milenial dan Generasi Z. Bahkan tidak sedikit yang mengira bahwa bulang bertingkat yang populer saat ini adalah satu-satunya bulang yang dimiliki masyarakat Mandailing. Padahal, jauh sebelum bentuk bulang yang kini memasyarakat, leluhur telah mengenal dan menggunakan Bulang Manuk serta Bulang Pusako bulang tonun sebagai identitas khas perempuan Mandailing.

Sunting Pesisir Muara Batang Gadis

Tentu, tulisan ini bukan untuk mempertentangkan atau menggantikan bulang yang saat ini telah diterima dan digunakan secara luas. Bulang yang kita kenal hari ini tetap merupakan bagian dari kekayaan budaya yang patut dihormati dan dilestarikan. Namun, di saat yang sama, kita juga memiliki tanggung jawab moral untuk menghidupkan kembali ingatan kolektif terhadap bulang khas Mandailing agar tidak hilang ditelan zaman.

Bulang Tonun Mandailing, kain tenun lengkap dengan aksessoris bunga bunga dan daun daun direstorasi A.I

Melestarikan budaya bukan berarti menolak perkembangan, melainkan memastikan bahwa identitas asli tidak ikut terlupakan. Kita boleh mengenakan bulang yang hari ini telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat, tetapi jangan sampai melupakan Bulang Manuk dan Bulang Pusako sebagai warisan khas yang membedakan Mandailing dari daerah lainnya. Budaya akan tetap hidup apabila dikenali, dipelajari, digunakan, dan diwariskan. Sebaliknya, budaya akan perlahan menghilang ketika generasi penerus tidak lagi mengetahui bahwa warisan tersebut pernah ada.

Karena itu, ketika suatu hari ada yang bertanya, “Yang mana Bulang Mandailing?” maka jawaban yang bijaksana adalah: “Sebagai bagian dari sejarah budaya Tapanuli Selatan, Mandailing memiliki bulang yang sama dengan wilayah budaya sekitarnya. Namun, Mandailing juga mempunyai identitas khas yang diwariskan leluhur, yaitu Bulang Manuk dan Bulang Pusako Bulang Tonun. Inilah kekayaan budaya yang harus kita kenal, kita banggakan, dan kita lestarikan bersama.” Mengenal sejarah bukan untuk membedakan, tetapi untuk memahami akar budaya sendiri. Sebab masyarakat yang besar bukanlah masyarakat yang melupakan warisan leluhurnya, melainkan masyarakat yang mampu menjaga identitasnya sambil tetap menghargai persaudaraan budaya dengan daerah lain.

Sayangnya, dokumentasi mengenai Bulang Manuk dan Bulang Pusako masih sangat terbatas. Akibatnya, generasi muda lebih akrab dengan bentuk-bentuk bulang yang lebih sering ditampilkan dalam berbagai kegiatan budaya maupun di media sosial. Kondisi ini menyebabkan sebagian masyarakat bahkan mulai mempertanyakan, “Sebenarnya, bulang khas Mandailing itu yang mana?”

Pertanyaan tersebut sering memunculkan perdebatan di media sosial. Tidak sedikit warganet yang menganggap bulang yang selama ini populer merupakan representasi tunggal dari budaya Mandailing. Padahal, secara sejarah, wilayah Mandailing memang pernah menjadi bagian dari Tapanuli Selatan. Hubungan sejarah tersebut tidak dapat dipisahkan. Namun demikian, dalam perkembangan kebudayaannya, masyarakat Mandailing juga memiliki kekhasan tersendiri, termasuk dalam ragam pakaian adat dan bentuk bulang yang berkembang di tengah masyarakat.

Perbedaan tersebut bukanlah alasan untuk dipertentangkan, melainkan kekayaan budaya yang perlu dipahami melalui kajian sejarah, adat, dan dokumentasi yang baik. Mengakui adanya ciri khas Mandailing bukan berarti menafikan hubungan sejarah dengan Tapanuli Selatan, tetapi justru menunjukkan bahwa setiap daerah memiliki proses perkembangan budaya yang melahirkan identitasnya masing-masing.

Oleh karena itu, sudah saatnya masyarakat Mandailing, khususnya generasi muda, mulai memperkenalkan kembali Bulang Manuk dan Bulang Pusako Bulang Tonun kepada publik. Semakin banyak foto, video, tulisan, penelitian, hingga karya kreatif yang menampilkan kedua bulang tersebut, semakin besar pula peluang masyarakat Indonesia bahkan dunia untuk mengenalnya sebagai bagian dari identitas budaya Mandailing. Pelestarian budaya di era digital tidak lagi cukup dilakukan melalui museum atau acara adat semata. Setiap unggahan di media sosial sesungguhnya adalah bentuk dokumentasi sejarah. Setiap foto yang dibagikan, setiap artikel yang ditulis, dan setiap video yang diunggah menjadi jejak digital yang akan membantu memperkenalkan budaya Mandailing kepada generasi berikutnya.

Generasi Milenial dan Gen Z memiliki peran yang sangat besar dalam misi ini. Mereka adalah generasi yang hidup berdampingan dengan teknologi, sehingga mampu menjadikan media sosial sebagai ruang pelestarian budaya. Ketika Bulang Manuk dan Bulang Pusako serta bulang tonun semakin sering muncul di berbagai platform digital, masyarakat akan mulai mengenalnya, mencarinya, mempelajarinya, bahkan bangga menggunakannya dalam berbagai kesempatan. Melestarikan budaya bukan hanya menjaga benda warisan, tetapi juga menjaga ingatan kolektif sebuah masyarakat. Jangan sampai suatu hari nanti kita hanya mengenal nama Bulang Manuk dan Bulang Pusako bulang tonun melalui cerita, tanpa pernah melihatnya dikenakan oleh generasi Mandailing sendiri.

Karena sesungguhnya, budaya yang terus diperkenalkan akan tetap hidup. Sebaliknya, budaya yang berhenti diceritakan perlahan akan hilang dari ingatan. Maka, mari kita perkenalkan Bulang Manuk dan Bulang Pusako bulang tonun seluas-luasnya, agar dunia mengetahui bahwa Mandailing memiliki kekayaan busana adat yang khas, artistik, dan menjadi bagian penting dari jati diri masyarakatnya.

Penulis: Dina Syarifah Nasution, M.Pd