Tantangan Humas Polri Diusia 71 Tahun

Oleh: MUHAMMAD RIDWAN LUBIS

Hubungan masyarakat atau disingkat dengan Humas merupakan praktek suatu pekerjaan yang bertugas mengelola penyebarluasan informasi sebuah lembaga kepada masyarakat. Humas berperan penting menyambung komunikasi dengan pihak luar dari sebuah organisasi maupun lembaga. Semua lembaga memiliki humas, tidak terkecuali dengan Kepolisian Republik Indonesia (Polri), yang tujuannya untuk mendekatkan lembaga tersebut dengan publik. Sehingga humas dapat diartikan sebagai tolak ukur atau sudut pandang masyarakat menilai tata kelola organisasi sebuah lembaga tersebut.

Polri merupakan sebuah lembaga negara yang mengemban tugas-tugas kepolisian di seluruh wilayah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia, red), yaitu memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat dalam menegakkan hukum dan memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat. dilihat dari tugas fungsi Polri tersebut tentunya banyak bersinggungan dan berinteraksi dengan masyarakat

Humas Polri adalah suatu bagian atau disebut dengan divisi yang ada di dalam tubuh Polri. Humas Polri inilah yang mengemban tugas untuk menyebarkan informasi secara lengkap kepada masyarakat luas. Walaupun pada realitanya divisi atau bidang lain tetap bisa memberikan informasi dalam memenuhi kebutuhan masyarakat luas.

Divisi Humas Polri ini bertempat di markas besar Polri. Namun, Humas Polri juga dibentuk di setiap daerah. Misalnya di Kepolisian Daerah (Polda) ada bidang humas, hingga ke tingkat Kepolisian Resort (Polres) ada kasubbag humas atau kasi humas. Yang pada prinsifnya punya tugas yang sama, yaitu memberikan informasi tentang kinerja kepolisian maupun informasi seputar penanganan perkara, juga informasi tentang kamtibmas dan sebagainya.

Seiring berjalannya waktu dan perkembangan teknologi khususnya media sosial. Ini seolah jadi tantangan bagi Humas Polri. Sebab perkembangan informasi ini seperti kilat, setiap menit hingga detik ada saja update informasi di media sosial, tapi yang sering terjadi adalah dis-informasi yang mengarah pada tindakan provokasi dan merusak tatanan kehidupan masyarakat. Mudahnya memperoleh informasi di media sosial turut mengubah pola pikir masyarakat, karena mereka menganggap informasi itu sama dengan pemberitaan. Padahal, sesungguhnya ada perbedaan informasi dengan berita atau pemberitaan. Informasi boleh saja jadi berita tetapi informasi tersebut harus melalui verifikasi data dan kejadian, seperti melakukan cek and recek atau investigasi, hasilnya jadi berita yang layak dikonsumsi dan terjamin akurasi datanya

Kapolres Madina memberikan penghargaan kepada Ketua PWI Madina sebagai wujud kemitraan Polres madina dengan wartawan

Namun, pada kenyataannya banyak masyarakat begitu mudah mempercayai suatu informasi yang belum melalui tahap verifikasi data dan kejadiannya. Sehingga informasi ini bisa jadi pemecah atau perusak kondusifitas dan ketertiban di tengah-tengah masyarakat, belum lagi informasi demikian dimanfaatkan oleh sekelompok orang untuk memprovokasi situasi. Dan media utama yang digunakan adalah media sosial semacam facebook, instagram, tweeter, dan sebagainya.

Di sisi lain Polri tak kalah cepat menangani persoalan ini, salah satu dengan membentuk unit cyber crime, melalukan patroli di dunia maya atau dunia internet, walaupun cyber crime ini belum ada di kepolisian resort dan sektor. Lalu hasil operasi cyber crime maupun divisi atau bidang lain di Kepolisian disampaikan ke publik melalui Humas Polri.

Humas Polri punya peran besar dalam menjaga wibawa institusi Polri. Karena bila fungsi humas ini tidak jalan sebagaimana mestinya maka spekulasi dan opini negatif akan begitu cepat merusak citra Polri

Contohnya saja kasus kematian Brigadir Josua Hutabarat yang dalam beberapa bulan ini menggegerkan negeri kita dikarenakan menyeret nama seorang jenderal bintang dua dan mempunyai jabatan strategis di tubuh Polri, yaitu mantan kepala divisi propam.

Kasus ini menarik perhatian ratusan juta penduduk Indonesia karena diawali dengan obstruction of justice, atau perbuatan menghalang-halangi proses hukum. Secara logika ini pasti terjadi, karena FS yang ditetapkan sebagai tersangka punya jabatan mentereng dan prestasi yang cukup baik di tubuh Polri.

Tetapi berkat keseriusan Kapolri Jenderal Polisi Drs Listyo Sigit Prabowo bersama tim yang dibentuk juga para petinggi Polri, kasus ini akhirnya terbuka selebar-lebarnya, sehingga FS dan istrinya pun ikut jadi tersangka, begitu pun dengan perwira polisi lainnya yang terlibat dalam tindakan obstruction of justice.

Tahapan semua proses hukum kasus tersebut seolah tidak ada yang terlewatkan masyarakat, hal ini dikarenakan Humas Polri yang dipimpin kepala divisi inspektur jenderal Prof Dr Dedi Prasetyo, setiap hari mengabarkan perkembangan kasus ini dengan penyampaian yang lugas dan jelas. Cara bicara yang cakap, santun, dan tenang ketika menanggapi banyak pertanyaan wartawan berjejer di hadapannya. Ini jadi penilaian yang baik bagi masyarakat mengikuti perkembangan kasus kematian Brigadir J.

Walaupun Polri saat ini diterjang badai besar, tapi penulis melihat itu bukanlah kesalahan institusi melainkan kesalahan oknum atau individu anggota Polri. Namun dari berbagai peristiwa yang merusak citra institusi ini, Polri haruslah berbenah diri dan perlu dilakukan revolusi mental bagi semua pimpinan polri hingga jajarannya

Kembali ke Irjen Dedi Prasetyo, prilaku ini seolah ditiru humas kepolisian di daerah. Seperti kepala bidang humas Polda Sumatera Utara yaitu komisaris besar Hadi Wahyudi. Perwira menengah polri yang tergolong masih muda ini juga kerap menghiasi tampilan utama pencarian google dan media massa cetak maupun cyber yang berbasis di Sumatera Utara. Kombes Hadi selalu terlihat tenang saat menyampaikan informasi kepada awak media yang memerlukan informasi secara langsung maupun wawancara lewat telepon, termasuk penulis sendiri yang beberapa kali menghubunginya melalui telepon genggam

Berbeda lagi dengan Humas Polri di Polres Mandailing Natal yang saat ini dijabat Inspektur Satu M Dalimunte. Perwira pertama polri ini tidak hanya menyebarkan informasi publik kepada wartawan. Lebih dari itu Iptu Dalimunte menjalin hubungan komunikasi yang baik melalui diskusi sambil ngopi dengan para awak media di Kabupaten Mandailing Natal. Mendatangi kantor organisasi wartawan, kantor media massa, dan tempat wartawan biasanya istirahat. Ada saja yang ia sampaikan, misalnya saat ini ada operadi zebra toba tahun 2022. Kasi Humas Polres Madina ini menyampaikan informasi lebih luas tentang tugas dan fungsi operasi zebra toba ini.

Kedekatan humas Polres Mandailing Natal ini dengan wartawan tidak terlepas dari kedekatan Kapolres Mandailing Natal AKBP H. Muhammad Reza Chairul Akbar Sidiq SIK SH MH dengan wartawan.

Kapolres Madina mengunjungi kantor PWI silaturahmi dengan puluhan wartawan yang bertugas di Madina

AKBP Reza, sering memintai pendapat wartawan soal kamtibmas dan pelayanan polisi kepada masyarakat, yang pada akhirnya harmonisasi dan kedekatan emosianal wartawan dengan Polres Mandailing Natal semakin meningkat. Ini salah satu bukti humas Polri yang semakin membaik mulai dari tingkat markas besar, polda, hingga polres.

Di sisi lain Polri khususnya di jajaran Polres Mandailing Natal juga menunjukkan sikap humanis dan inspiratif. Kenapa penulis menilai demikian, karena sejak beberapa tahun ini ada saja kegiatan bakti sosial Polres Madina membantu meringankan beban ekonomi masyarakat.

Seperti program yang saat ini sedang digencarkan AKBP Muhammad Reza yaitu ‘Pos Jubah’ (Polisi Bersedekah Jumat Berkah), di mana personelnya turun langsung memberikan bantuan berupa sembako dan uang tunai kepada fakir miskin, bukan cuma anggota yang bertugas di Polres, melainkan jajaran personel Polsek juga mengikuti program tersebut. Rutinitas ini mendapat penialaian yang amat positif dari masyarakat, mengingat dampak pandemi Covid-19 yang menyebabkan ekonomi masyarakat menurun drastis hingga menambahi angka kemiskinan.

program Pos Jubah (Polisi bersedekah jumat berkah) yang digagas Kapolres Madina dengan kegiatan membagikan sembako kepada keluarga kurang mampu dan rutin dilaksanakan setiap hari Jumat

Kegiatan lain yang cukup menginspirasi adalah dengan tampilnya Kapolres Mandailing Natal menyumbangkan suara emasnya pada setiap kegiatan, seperti kegiatan bersama Forum koordinasi pimpinan daerah bahkan kegiatan pesta pernikahan masyarakat, AKBP Reza tidak sungkan menghibur masyarakat. Dan, ada dua lagu wajib yang selalu dibawakannya yaitu salawat assiyfa’ dan salawat Jibril. Sehingga suara asli Kapolres Mandailing Natal ini masuk ke dapur rekaman, dan saat ini banyak sekali kegiatan di Mandailing Natal yang diisi dengan suara Kapolres yang sudah diolah di dapur rekaman, disela-sela setiap kegiatan

Belum lagi Kapolres Mandailing Natal yang kerap tampil sebagai muazin di masjid-masjid dengan lantunan takbirnya yang amat indah didengar. Inilah kenapa penulis mengatakan Polres Madina humanis dan inspiratif.

Kekurangan sudah pasti ada karena kesempurnaan bukanlah pakaian manusia selaku ciptaan Tuhan. Namun, dengan realita yang ada hari ini penulis menilai Polri semakin baik, semakin humanis, berintegritas dan inspiratif.

Tentunya humas polri tidak boleh berbangga diri karena masih banyak hal yang perlu diperbaiki untuk mempertahankan dan meningkatkan trust atau kepercayaan publik kepada institusi ini. Kiranya humas polri ini ke depan lebih diperkuat dan ditambah programnya terkhusus humas di kepolisian resort. Sebab, kecepatan media sosial hari ini harus dicermati dan disikapi dengan cepat pula. Humas Polri di daerah perlu penambahan instrumen agar bisa lebih cepat menyampaikan informasi kepada publik. Begitu juga meningkatkan kedekatan dengan wartawan terkhusus yang sudah bersertifikasi kompetensi. Ini amat perlu dilakukan agar terwujud informasi yang benar dan terjamin akurasinya. Bukan informasi yang disebarluaskan begitu saja tanpa proses verifikasi data dan informasi. Karena informasi yang tidak diverifikasi atau divalidasi bisa menambah permasalahan baru di tengah-tengah masyarakat. Semisal suatu insiden yang belum dilakukan cek dan recek ke lapangan tapi sudah disebarluaskan ke media sosial sehingga masyarakat tidak memahami sesungguhnya bagaimana kronologi insiden itu terjadi, belum lagi suatu insiden yang dimanfaatkan sekelompok orang untuk tujuan atau kepentingan tertentu. Di sinilah pentingnya kepolisian khususnya divisi, bidang, atau subbag humas memberikan informasi seluas-luasnya kepada wartawan atau media massa agar dapat mengabarkan sesuai dengan peristiwa yang terjadi. Karena itu perlu kiranya kemitraan dengan wartawan yang kompetensi itu ditingkatkan, dan humas polri di semua tingkatan lebih sigap dan membuka ruang bagi segenap wartawan selaku pencari berita.

Terakhir penulis mengucapkan selamat hari ulang tahun untuk Humas Polri ke-71. Semoga makin jaya di darat dan di udara.

Penulis : Muhammad Ridwan Lubis
media : www.mohganews.co.id
organisasi : Ketua PWI Kab Mandailing Natal