MADINA – Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) melalui Dinas Kominfo dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) merilis hasil inspeksi manifestasi terkait fenomena lumpur panas yang terjadi di sejumlah titik di Desa Roburan Dolok, Kecamatan Panyabungan Selatan.
Pres realese tersebut digelar di ruang kerja Plt. Kadis Kominfo Madina Rahmad Hidayat Dalimunthe, Jumat (14/11/2025). Turut hadir Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Madina, Khairul, ST.
Plt Kadis Kominfo Rahmad Hidayat mengatakan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melalui Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi telah mengeluarkan hasil inspeksi manifestasi di sekitar wilayah PT. Sorik Marapi Geotermal Power (SMGP) pada 4 September 2025.
Hasil inspeksi manifestasi itu berkaitan dengan fenomena lumpur panas yang timbul di sejumlah titik di perkebunan milik warga di Desa Roburan Dolok, Panyabungan Selatan. Kementerian ESDM ketika itu turun ke lokasi mengambil sampel lumpur panas yang timbul di permukaan untuk diteliti.
“Hasil pemeriksaan lapangan bahwa di sumur-sumur di area tersebut dalam kondisi normal dan aman. Tidak ada aktivitas produksi maupun reinjeksi. Sumur berada dalam kondisi tertutup total tanpa adanya indikasi rembesan atau kebocoran fluida panas bumi,
“Manifestasi yang ditemukan berubah tanah panas, lubang boruap dan kolam Lumpur,” kata Rahmad Hidayat, meneruskan hasil inspeksi lapangan Kementerian ESDM tertuang dalam surat nomor T-2467/EK.04/DJE.P/2025.
Rahmad meneruskan, analisis terhadap data geologis menunjukkan lokasi kemunculan manifestasi berada di zona geologi yang lemah dengan densitas struktur tinggi yang memungkinkan terjadinya pemanasan air meteorik (Air hujan) secara alami.
“Selain itu informasi dari warga setempat mengkonfirmasi bahwa sebagian manifestasi telah ada sejak sebelum dimulainya operasi panas bumi di area tersebut,” ujarnya.
“Berdasarkan analisis geokimia melalui pemeriksaan laboratorium terhadap sampel air panas dari manifestasi, menunjukkan bahwa air panas tersebut berasal dari air hujan atau air permukaan yang mengalami pemanasan di dekat permukaan tanah, bukan aliran panas dari bawah permukaan,” sambungnya.
Lebih jauh Rahmad menerangkan dalam hasil inspeksi manifestasi Kementerian ESDM tersebut bahwa berdasarkan data fakta hasil pemeriksaan lapangan dan data analisis kimia terhadap sampel air panas, dapat disimpulkan tidak ditemukan adanya indikasi adanya hubungan antara keluarnya manifestasi yang diklaim dengan operasional PT.SMGP.
“Jadi kesimpulan tim EBTKE adalah tidak ada hubungan manifestasi lumpur panas dengan operasional PT SMGP yang berlangsung di sana,” pungkasnya. (FAN)






