Sampuran Silayang-Layang Potensi Wisata Mandailing Natal Terpendam

0
784

Panyabungan| Destinasi wisata alam air terjun menjadi salah satu lokasi favorit rekreasi akhir pekan bagi masyarakat untuk melepas penat setelah padatnya aktivitas pekerjaan. Begitu juga bagi warga Mandailing Natal (Madina)

Meski sudah ada beberapa lokasi sampuran (air terjun-red) yang sudah mengukir nama di hati para penikmat wisata seperti ‘Sampuran Sigala-gala di Kecamatan Panyabungan Selatan, Sampuran Aek Nabontar di Longat, Sampuran Aek Batu Bontar di Panyabungan Timur, dan sejumlah sampuran terkenal lainnya. Ternyata Madina masih memiliki potensi wisata air terjun yang sebagaian besarnya belum ter-ekspos dan ter-eksplorasi.

Salah satunya wisata sampuran Silayang-layang yang terletak di Desa Aek Mata Kecamatan Panyabungan yang hanya berjarak ­sekitar 7 KM dari pusat Panyabungan, perjalanan dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

di Desa Aek Mata sendiri diketahui terdapat belasan lokasi sampuran yang belum ter-ekspos dan masih begitu alami.

Tim MohgaNews bersama sahabat Mohga dipandu Persatuan Naposo Nauli Bulung (PNNB) Desa Aek Mata pada Sabtu (23/01/2020) berkesampatan mengunjungi salah satu sampuran tersebut.

Tim dari Sahabat MohgaNews mengunjungi salah satu potensi wisata di Desa Aek Mata Panyabungan

Dikarenekan kondisi jalan yang masih buruk, perjalanan ke Desa Aek Mata ditempuh dengan waktu kurang lebih 30 menit dengan sepeda motor, ditambah dengan perjalanan kaki dari lokasi parkir menuju lokasi sampuran yang memakan waktu 40 menit.

Pantauan Mohga, jalur yang dilalui yaitu melewati areal perkebunan yang ditanami berbagai jenis tanaman muda seperti terong belanda, pepaya, hingga perkebunan kopi masyarakat, sehingga medan yang dilalui tidak terlalu sulit.

Setelah melewati areal perkebunan, dibutuhkan waktu sekitar 20 menit perjalanan menyusuri sungai untuk sampai dilokasi sampuran.

Setibanya di lokasi, tim langsung disuguhi pemandangan asri dipadukan dengan suara deru jatuhan air yang diperkirakan memiliki ketinggian 7 meter serta hembusan angin yang begitu menyejukkan raga.

Tepat di tepi air terjun terdapat sebongkah batu besar dengan diameter 3 meter yang membentuk sebuah goa tepat dibawahnya dengan kedalaman 2 meter yang dulunya disebut warga setempat sebagai goa bersarangnya burung Walet. Hal itulah yang manjadi dasar penamaan Sampuran Si Layang-layang oleh masyarakat setempat.

Rombongan berteduh di pintu goa yang disebut sebagai sarang burung walet

Sahabat Mohga beserta tim pun tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk bersantai dan ber-swafoto.

Sekedar informasi, tim juga menemukan sebuah cangkang dengan dua butir telur di alam goa yang diperkirakan milik burung yang belum diketahui jenisnya.

Sepulang dari lokasi sampuran, tim menyempatkan diri mengunjungi warga yang begitu antusias menyambut Mohga beserta tim untuk sekedar bercengkrama dan berdiskusi tentang potensi wisata sampuran lainnya yang terdapat di Desa Aek Mata.

Menurut penuturan masyarakat, Gozali Nasution (51) terdapat belasan lokasi sampuran lainnya yang jika dikembangkan akan berpotensi menjadi salah satu rujukan tempat rekreasi bagi para wisatawan.

“Disebut Sampuran Si Layang-layang karena ada goa tepat dibawah batu dan dijadikan sebagai sarang burung Walet liar. Selain itu Masih ada beberapa sampuran lain semisal Sampuran ‘Markelak-kelak’ dengan keistimewaan memiliki dua sampuran seperti tangga dengan lokasi yang luas. Kalau seandainya dikembangkan, menurut saya berpotensi menjadi salah satu lokasi favorit wisatawan” sebut Gozali.

“Ada juga sampuran yang bentuknya mirip seperti waterboom, namun aksesnya masih sangat alami dan tidak mudah untuk dilalu,” timpal Ridwan, pemuda yang turut mendampingi perjalanan ke Sampuran.

Sekretaris PNNB Desa Aek Mata, Reza Pahlevhi juga menambahkan jika rencana untuk mengembangkan potensi wisata tersebut dapat segera terealisasi, hal itu juga akan berperan dalam meningkatkan perekonomian masyarakat Desa Aek Mata.

“Kita berharap dan berencana untuk mengembangkan potensi dengan mempermudah akses ke lokasi sampuran, tentu rencana ini juga akan dapat terlaksana dengan bantuan pihak Pemerintah Daerah dalam upaya memajukan daerah terkhusus Desa Aek Mata. Karena hal ini nantinya kita harapkan menjadi sumber pemasukan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat terutama di tengah kondisi tidak stabilnya harga karet yang menjadi penghasilan utama masyarakat,” terang Reza.

“Ditambah lagi kita masih berada dalam suasana pandemi yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan dan perekonomian,” sambung Badaruddin selaku Ketua PNNB Desa Aek Mata yang ditemui sepulang perjalanan. (MN-07)