Pengidap Kanker Payudara di Panyabungan Butuh Uluran Tangan

0
267

Mohganews|Madina- Nur Asiah (46) namanya. Seorang ibu yang telah bertahun tahun mengidap kanker payudara kini tinggal bersama suaminya Sahrial (56) dan putrinya di Pasar jonjong, Kelurahan Panyabungan II, Kec. Panyabungan, Mandailing Natal (Madina).

Tim medis saat memeriksa kesehatan ibu Nur Asiah pengidap kanker payudara di Panyabungan.

Selama 3 tahun lamanya Nur Aisah menyembunyikan penyakit yang dideritanya karena tak ingin menjadi beban bagi keluarganya dan masyarakat.

Selama 3 tahun itu Nur Asiah tetap melakukan aktifitas sebagaimana biasanya dan menjadi buruh cuci pakaian demi membantu sang suami mencari nafkah dengan usaha warung/kedai kopi kecil di sudut kawasan kios toko jahit di Pasar Jonjong.

Rasa perih dan risih sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Nur Asiah. Pembengkakan yang belum begitu menonjol terus berusaha ditutupinya.

Hingga pada bulan Ramadhan 2019 lalu, ketika sang suami tersentak dari tidur, Sahrial melihat tonjolan yang tidak biasa di dada istri yang sudah 5 tahun dinikahinya itu. Setelah didesak barulah istrinya mengungkapkan penyakit yang bertahun tahun dirahasiakannya itu.

“Sebelumnya tidak ada bilang. Dan lagi belum terlalu besar. Tahun yang lalu (2019) baru kami tahu, itupun kami tidak tahu kalau itu kanker, dan pembengkakannya baru setahun belakangan ini pak,” ucap Sahrial ketika diwawancarai Mohganews, Senin (14/09/2020).

Dalam kurun waktu setahun ini, Sahrial telah membawa istrinya berobat mulai dari Puskesmas, Rumah Sakit hingga pengobatan alternatif telah ditempuhnya.

Bahkan Nur Aisah juga pernah dirujuk ke salah satu Rumah Sakit di Kota Medan sekitar bulan Mei 2020 lalu dengan harapan akan dilakukan Operasi pengangkatan Tumor ganas itu.

Hal itu berkat bantuan masyarakat sekitar lingkungan tempat tinggalnya yang melakukan penggalangan dana untuk membantu meringankan biaya hidup Sahrial selama di Kota Medan.

“Istri saya pakai BPJS pak, dan untuk biaya hidup selama di Medan itu dibantu masyarakat sini (pasar jonjong) yang menggalang dana bantuan,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Kurang lebih 2 minggu di Medan, melihat istrinya tak juga dioperasi dengan alasan terindikasi reaktif virus Corona, Sahrial dan istri memilih untuk pulang ke Panyabungan yang kemudian diizinkan oleh pihak Rumah Sakit.

Setiba di Panyabungan, hari demi hari benjolan tampak semakin membesar, sang istri pun sudah tak bisa lagi beraktifitas, bahkan untuk sekedar shalat saja hanya bisa dilakukan sambil duduk.

Pernah terjadi pendarahan yang diperkirakan mencapai 1 Liter dari payudara Nur Asiah.

“Pernah keluar darah kira kira 1 liter pak, sebelumnya waktu di RS pun keluar darah 1 liter juga. Kasihan pak kalau sudah keluar darah istri saya bawaannya lemas, mukanya pucat, bahkan tensi darahnya bisa cuma 67 dari normal 120 pak,” ucap Sahrial menambahkan.

Untuk sekarang, Sahrial dan istri hanya bisa pasrah dengan. Terlebih setelah pandemi Covid-19, kondisi ekonomi keluarganya semakin terhimpit. Penghasilan sari kedai kopi miliknya pun semakin hari kian menyusut.

“Cuma bisa pasrah pak. Untuk berobat sudah sangat berat, penghasilan dari jualan cuma 20 ribu pak, bahkan kadang seharian pelanggan cuma 1 orang. Jangankan untuk biaya berobat pak, untuk makan saja tidak cukup. Beruntung masih ada keluarga yang peduli dan mengirimi kami beras dari kampung pak,” pilu pria asal Desa Barbaran, Panyabungan Barat itu.

“Kadang tetangga dan yang kerja di sekitar sini kasih uang untuk beli obat atau untuk biaya berobat alternatif pak,” sambungnya.

Kini Sahrial dan keluarga sangat berharap adanya uluran tangan dari dermawan untuk biaya hidup selama di Rumah Sakit rujukan jika swandainya membawa sang istri berobat dan menjalani operasi pengangkatan tumor ganas itu.(MN-09)