Eks Wakil Bupati: Madina Ini Butuh Pemimpin Tegas dan Religius

MohgaNews|Madina – mantan Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina) H Imron Lubis turut menanggapi sosok yang layak dipilih pada Pilkada Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati tahun 2020 mendatang.

Hal itu disampaikannya saat bincang-bincang dengan MohgaNews baru-baru ini.

Ia menyebut, Kabupaten Madina saat ini membutuhkan figur yang memiliki ketegasan juga memahami kultur budaya dan keagamaan di tengah-tengah masyarakat. Karena, menurutnya Pemerintahan Kabupaten Madina saat ini dalam situasi carut marut, apalagi banyak pejabat di pemerintahan yang tidak dapat menjalankan tugas dan fungsinya, sehingga program pemerintah tidak berjalan dengan baik.

“Dengan situasi dan kondisi yang ada saat ini, kita melihat figur yang layak memimpin Madina ke depan adalah yang memiliki ketegasan, sehingga arah program kebijakan pemerintah bisa berjalan dengan baik. Hal ini bisa kita lihat, pimpinan SKPD yang kurang bertanggung jawab atas tugas fungsinya, kemudian ASN yang sering bolos kerja dan melimpahkan tugasnya ke tenaga honorer, sehingga kinerja mereka sering mengecewakan,

“Dari hal ini, yang perlu diperbaiki pertama adalah sistem birokrasi di Pemerintahan. Kita jangan dulu bercerita jauh soal program pembangunan, tetapi perbaikan sistem di dalam yang perlu dilakukan. Sehingga pimpinan SKPD dan juga ASN sama-sama menyadari tugas dan tanggungjawabnya, dan nantinya lahir program pembangunan yang tepat guna bagi masyarakat,” ungkapnya.

Di sisi lain, calon Wakil Bupati di Pilkada Madina tahun 2015 yang lalu itu menjelaskan, figur calon Bupati nantinya diharapkan lahir dari kalangan yang benar-benar memahami keagamaan. Karena, Kabupaten Madina yang memiliki pondok psantren cukup banyak dan masyarakatnya homogen.

“Masyarakat Madina adalah homogen, dan salah satu icon daerah kita adalah pondok psantren. Tentu, kita berharap pemimpin masa depan di Madina harus mempunya strategi bagaimana memberdayakan pondok psantren dan keagamaan itu bisa jadi sebuah hal yang menarik dan mempunyai nilai kekayaan daerah. Dan, yang memahaminya adalah figur yang benar-benar mencintai agama, dan menghormati nilai-nilai keagamaan itu,

“Tapi yang paling penting adalah niat yang tulus untuk memberikan pengabdian untuk daerah kita ini. Bila masih berpikir kos anggaran menjadi Bupati itu mahal, tentu saja ia akan berpikir bagaimana modalnya itu segera kembali. Itu figur yang tidak layak dipilih, sebaliknya figur yang benar-benar ikhlas mengabdilah yang perlu kita dukung,” ujarnya. (MN-01)