PALUTA – anggota Dewan Pakar DPW PKS Sumatera Utara Chandra Rambey, mengupas tuntas tentang Ibu Kota Nusantara (IKN) yang akan dipindahkan ke Kalimantan Timur.
“Ada baiknya kita mengerti dulu tentang arti sebuah kota atau ibu kota. Kota itu adalah tempat dimana ada interaksi antara orang ke orang, ada interaksi sosial dan strata sosial yang di dalamnya ada infrastruktur, ada interaksi bisnis dan interaksi sosial budaya. Jadi, kota akan hidup apabila ada penghuninya,” kata Chandra Rambey, Caleg DPRD Provinsi Sumut Dapil 7 kepada Mohga News, Minggu (10/12/2023).
Jadi, lanjut Chandra Rambey sebuah kota itu harus ada penghuninya. Bukan hanya bangunan yang desainnya bagus. Harus ada interaksi dari kalangan bawah sampai atas dan terjadi interaksi yang dinamis.
Terkait Program Pemerintah ingin memindah Ibu Kota Negara dari Jakarta ke Kalimantan yang jaraknya 1.000 km, menimbulkan sebuah pertanyaan. Bagaimana cara pemerintah memindahkan 450 ribu orang ASN dari Jakarta ke Kalimantan.
“Bayangkan lima tahun ke depan berapa banyak orang yang dipindahkan mulai dari ASN dan Non ASN termasuk TNI/Polri. Lantas, apakah non ASN mau pindah ke sana? Tentu akan bertanya dan mempertimbangkan apakah ada peluang di sana,” katanya.
Caleg DPRD Sumut Dapil 7 ini menyampaikan kekhawatirannya kota itu akan sepi penghuni atau sama nasibnya dengan ibukota-ibukota lainnya yang sudah pernah ada. Ditinggalkan penghuninya karena kota tersebut sepi dan interaksi yang ada di dalamnya juga tidak kuat.
Contohnya adalah Kota Batam, yang dulunya kita harapkan bisa berkembang dengan pesat. Tapi sekarang justru sebaliknya, dimana orang-orang sudah meninggalkan kota ini.
“Bagaimana dengan pebisnis, apakah mau menanamkan investasinya ke sana? Terus terang, pebisnis itu mau berinvestasi kalau ada profitnya. Kalau tidak ada profit yang akan didapatkan, maka pebisnis akan enggan untuk datang ke sana. Jadi, ibu kota nusantara ini nantinya kalau sudah jadi, ada kekhawatiran akan menjadi kota yang layu sebelum berkembang,” jelas Chandra Rambey. (DSP)












