Puncak Sorik Marapi| Mandailing Natal (Madina) dikenal dengan kekayaan alam dan budaya diantaranya budaya bagas godang (Rumah adat), Gordang sambilan, wisata Sampuraga serta pemandian aek milas Desa Sibanggor Kecamatan Puncak Sorik Marapi dan lainnya. Dan itu sebagian dari destinasi wisata di Kabupaten Madina.
Di Kecamatan Puncak Sorik Marapi, ada sebuah desa tua yang berusia ratusan tahun dan masih lestari keberadaannya hingga kini yaitu Desa Sibanggor tempatnya berada di kaki gunung merapi.
Nama Desa Sibanggor berasal dari bahasa Mandailing yang artinya hangat kuku. Desa ini tak bisa dipisahkan dari aek milas dikarenakan terdapat sungai air panas yang mengalir.
Sungai yang kecil memiliki air yang jernih di desa dan seakan sudah menyatu dengan kehidupan warga. Sangat cocok bagi kamu yang suka berpetualang.
Wisata air panas itu kini telah banyak polesan baik dari pemerintah maupun bantuan dari Perusahaan panas bumi yang sedang beroperasi di daerah Sibanggor tersebut.
Saleh (42) pemilik tempat pemandian aek milas saat dijumpai MohgaNews pada hari Senin, (21/9/2020) mengatakan pemandian aek milas (air panas,red) ini sudah lama dan sudah turun temurun.
“Tempat pemandian aek milas ini sudah ada sejak orang tua saya masih remaja, dan sudah turun temurun bertempat tinggal disini,” tuturnya.
Saleh menuturkan aek milas itu dulunya sangat ramai pengunjung, dikarenakan aek milas ini sangat manjur untuk mengobati berbagai penyakit antara lain penyakit gatal-gatal, rematik serta penyakit lainnya.
“Sebelum ada pandemi Covid-19 pengunjung sangat ramai datang, baik itu warga lokal maupun luar daerah seerti dari pasaman, Bukit Tinggi. Tapi sejak ada virus corona pengunjung yang datang berkurang dan penghasilan pun menurun,” ujarnya.
Budaya lokal masih melekat kental terlihat jelas dari berdirinya rumah-rumah adat beratap ijuk yang sekaligus menjadi tempat tinggal warga di lereng kaki gunung Sorik Marapi serta cocok dengan Semboyan Madina untuk saat ini ‘Negeri Beradat Taat Beribadat’.
Rumah-rumah itu ternyata memiliki fungsi lain yaitu melindungi dari hujan abu belerang yang kadang menerpa desa ini.
Tidak hanya beratap ijuk, bentuk rumah panggung mendominasi setiap sudut Desa Sibanggor Tonga.
Saleh juga mengatakan bahwa mayoritas masyarakat yang tinggal di daerah Sibanggor beragama Islam dan ia berharap objek wisata tersebut menjadi pemerintah.
“Saat ini penduduk Desa Sibanggor julu lebih kurang 2.500 jiwa yang mendiami desa kuno tersebut dan mayoritas penduduknya beragama Islam, kearifan lokal desa ini membuat banyak wisatawan berkunjung,”
“Semoga cagar budaya aek milas ini tetap terjaga dan menjadi salah satu objek wisata yang dikedepankan oleh pemerintah daerah guna memajukan kesejahtraan masyarakat,” harapnya. (MN-08)












