MADINA – Ahmad Fauzi, S.Ag atau akrab disapa Ray Rangkuti mengisi materi Peningkatan Kapasitas Pengawas Pemilu oleh Bawaslu Kabupaten Mandailing Natal (Madina) di aula Hotel Rindang, Kecamatan Panyabungan, Minggu (8/9/2024) pukul 21.00 Wib.
Peserta kegiatan itu adalah Panwascam dari 23 kecamatan di Kabupaten Madina. Kegiatan ini akan berlangsung selama tiga hari sejak tanggal 8 hingga 10 September 2024.
Hadir Ketua Bawaslu Madina, Ali Aga Hasibuan, M.H dan Anggota Bawaslu Madina Kordinator Divisi Hukum dan Penyelesaian Sengketa, Asrizal Lubis beserta stafnya.
Asrizal membuka acara sebelum Ray Rangkuti memberikan materi. Asrizal menyebut Ray Rangkuti merupakan tokoh nasional asal Kabupaten Madina.
“Bang Ray Rangkuti adalah tokoh nasional kelahiran Hutasiantar 20 Agustus 1969. Saya harap nanti semua rekan-rekan agar dapat mencerna apa yang disampaikan oleh Bang Ray Rangkuti,” kata Asrizal.
Dalam kesempatan itu, Ray Rangkuti mengatakan, menurutnya demokrasi adalah warisan paling penting untuk dijaga.
Peran penting penyelenggara pemilu sampai ke jajarannya harus benar-benar independen dalam menjalani tugas agar demokrasi dapat berjalan dengan baik dan benar.
“Tantangan menjadi seorang penyelenggara pemilu itu menurut saya cukup berat, dituntut harus independen. Jangan mau dikelabui oleh peserta pemilu, kalian harus menjadi agen untuk kecerdasan publik atau kepada para pemilih,” katanya.
Ray Rangkuti menjelaskan makna independen bagi penyelenggara. Penyelenggara harus merdeka dan tidak bergantung pada pihak lain.
“Makna Independen adalah tidak tersangkut apapun terkait dengan peserta pemilu. Tidak ada beban, kerjakan tugas sesuai dengan aturan sebagai pengawas pesta demokrasi,” jelasnya.
Di luar independen, Ray Rangkuti juga mengingatkan soal integritas seorang penyelenggara pemilu. Integritas katanya, kesatuan antara sikap dan tindakan.
“Integritas politisi itu beda dengan integritas penyelenggara. Integritas penyelenggara adalah mendahulukan kepentingan Publik daripada kepentingan sendiri atau kelompok,” ujarnya.
Terakhir, Ray Rangkuti meminta penyelenggara pemilu untuk berfikir lebih panjang dalam menjalankan tugasnya.
“Politisi itu berfikirnya lima tahun sekali bagaimana dia periode yang akan datang bisa menang lagi. Jangan berfikir seperti ini kalau sebagai penyelenggara. Berpikirlah lebih panjang untuk melakukan suatu hal dengan tujuan merawat demokrasi yang baik,” tutupnya. (FAN)






