MEMIMPIN DENGAN HATI

Oleh: M Daud Batubara – Banyak pertanyaan sampai kini terhadap berbagai persoalan yang menimpa negeri sepertinya tak kunjung usai silih berganti. Kemaksiatan menjadi-jadi, eksploitasi bisnis demi kepentingan kelompok dan keuntungan pribadi, kepincangan pendapatan dan ketidakadilan masih terjadi. Eksploitasi kekayaan alam yang luar biasa, belum mampu mensejahterakan rakyat. Produk politik masih sangat jauh dari ekspektasi rakyat dan cenderung dimenangkan kepentingan kelompok. Hukum bisa diperjualbelikan dan korupsi makin tersiar banyak dan semakin menjadi-jadi.

Persoalannya tentu berada pada manusianya sendiri, yang mungkin terlalu lama tidak menyuburkan hati nurani, sehingga hidup masih dikendalikan oleh nafsu. Lama-kelamaan, hati nurani menjadi mati, karena cenderung membiarkan akal saja yang menguasai diri, yang semakin dominan sehingga hati cenderung semakin tertutupi. Disinilah peran antara akal dan hati harus seimbang, agar manusia tidak menjadi serigala bagi sesamanya (homo homini lupus).

Prof. Zul mengungkapkan bahwa mestinya dalam laku hidup, ada tiga hal yang mesti dikombinasikan, yaitu naluri, nalar dan nurani, ketiganya ada dalam diri tiap manusia yang perlu dijaga keseimbangan perannya. Naluri sebagai dorongan hati atau nafsu yang dibawa sejak lahir alamiah, dan ini terdapat pada jenis makhluk hidup termasuk pada hewan. Nalar berkaitan dengan aktivitas yang memungkinkan seseorang berpikir logis, memiliki jangkauan pikir dan kekuatan pikir. Dasar berpikir logis adalah dengan menggunakan akal, pikiran dan rasio. Nurani sendiri adalah perasaan atau lubuk hati terdalam yang selalu membisikkan dan mendorong pada kebaikan. Hati nuranilah yang menerima respon dan bertindak baik untuk membimbing mulut, mata, telinga, tangan dan organ lainnya untuk bergerak tehadap yang baik.

Pada konsep laku kepemimpinan, penyeimbangan naluri, nalar dan nurani tersebut mesti dimulai dilakukan oleh pemimpin di semua tingkatan dan semua lini baik pemerintahan dan swasta. Merujuk pada naluri, nalar dan nurani yang dimiliki manusia pada alinea sebelumnya maka pimpinan yang jika menggunakan naluri saja, tentulah kepemimpinannya akan sama dengan kepemimpinan mirip hewan yang tanpa akal, tanpa etika, tanpa rasa dan tanpa norma.

Menalar; memberi pemimpin mampu menguasai pengetahuan dan mengembangkannya untuk kepemimpinannya dengan visioner. Namun, tidak cukup dengan akal dan rasio saja, karena persoalan adil dan jujur seringkali memiliki makna ganda dengan cara pandang pribadi. Jika hanya menggunakan akal saja, sedangkan hati nurani diabaikan, akan dapat memanipulasi fakta dan informasi untuk pembenaran. Sebaliknya apabila hati nurani atau kalbu digunakan maksimal pada porsinya, akan dapat menggiring pemimpin kepada hal-hal baik. Jadi, seorang yang memimpin dengan hati akan terbuka matanya melihat, terbuka telinganya mendengar dan terbuka hatinya sehingga dapat merasakan bagian dari hal yang dialami bawahan atau rakyatnya.

Namun, dari fakta-fakta Prof. Zul, mengulas dari informasi berbagai media, menunjukkan kehidupan berbangsa dan bernegara, bahwa gaya pemimpin saat ini cenderung didominasi oleh akal atau rasio belaka dan kehilangan keteladanan. Hati nurani hanya sering diucapkan sekedar sebagai penghias kata untuk memberi kesan bahwa mereka orang yang bermoral dan beretika. Namun ketika melihat kebijakan dan keputusan yang diambil dalam penyelesaian masalah, sungguh jauh berbeda dengan apa yang disampaikan dengan yang dikatakan, yang lebih sering justru mempertontonkan arogansi, merasa hebat, merasa benar, yang selalu menekankan pendekatan kekuasaan dan memaksakan kehendak.

Hal inilah yang menjadikan faktor utama keterpurukan dan terperangkap dalam aneka permasalahan panjang dalam disharmoni, ketidakadilan dan ketidakpuasan dengan sikap, sifat, kelakuan. Menghindari krisis ini, penting menghidupkan kembali hati nurani, menjalankan kepemimpinannya dengan kekuatan cinta. Pemimpin yang pintar, cerdas, terampil dan kenyang dengan pengalaman akan lebih bermakna bagi rakyat bila komitmen dan rasa cinta, dalam pola kepemimpinannya.

Ada beberapa terminologi yang menjadi kata kunci kepemimpinan dengan cinta, yaitu komitmen, keikhlasan, ketulusan, integritas, kejujuran dan pengendalian diri. Dengan bermodalkan kata kunci tersebut, akan menjalankan kepemimpinan dengan rasa cinta dan rasa kasih sayang terhadap bawahan, karyawan, maupun rakyatnya. Oleh karena itu, karakter yang tergambar pada sosok seseorang yang menjalankan kepemimpinan dengan hati, adalah karakter yaitu cerdas tapi tidak membuat orang lain merasa bodoh, cepat bertindak tapi penyabar, berani tapi tidak nekat, sibuk tapi bersahabat, lebih senang melayani daripada menuntut dilayani, serta efektif berkomunikasi baik sebagai pembicara maupun pendengar yang baik.

Untuk dapat menjalankan kepemimpinan dengan hati, tentu memerlukan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual yang baik sehingga mampu membangun kolaborasi harmonis yang bermakna positif. Perlu pula prasyarat efektifitas memimpin dengan hati lebih efektif jika bawahan, karyawan ataupun orang-orang yang dipimpin juga orang-orang yang bekerja menggunakan hati.

Catatan: Tulisan ini adalah kepingan hasil ulasan buku Memimpin Dengan Hati, Prof. Zulkarnaen Lubis). (MN-01/rel)