PANYABUNGAN, – hujan lebat pada Rabu siang hingga malam (18/8/2021) kemarin menyebabkan sungai Batang Natal meluap, debit air naik sehingga menyebabkan banjir di sejumlah desa di Pantai Barat, terkhusus di Kecamatan Lingga Bayu dan Natal sebagai kecamatan tetangga
Sungai Batang Natal merupakan tempat beroperasinya tambang emas tanpa izin (illegal mining) yang sudah berjalan bertahun-tahun. Informasi dihimpun MohgaNews, Kamis (19/8/2021), saat ini ada sekitar dua puluhan unit excavator (alat berat) yang sedang beroperasi di sana. Tetapi, karena debit air di sungai Batang Natal naik alat berat tersebut memilih berhenti sementara
Herisandi, salah satu putra Batang Natal menyebut, alat berat yang mengerjakan tambang emas tanpa izin itu sedang berhenti beroperasi sejak sungai meluap kemarin. Herisandi menyebut, praktek tambang emas tanpa izin itu mendatangkan bencana nyata bagi masyarakat di sana
“Saya sudah sering menyampaikan penolakan praktek tambang illegal ini, tetapi tidak pernah direspon dari pihak mana pun, termasuk pemerintah. Bahkan saya dimusuhi penambang, ini suatu bencana nyata bagi kami. Padahal tambang emas di sungai Batang Natal sudah nyata merusak alam, kalau alam sudah dirusak pasti akan mendatangkan bencana, termasuk banjir yang dialami warga saat ini,” ujarnya
“ada lebih 20 unit excavator yang masih aktif beroperasi di sini. Apabila debit air sudah normal mereka akan bekerja siang dan malam,” ungkapnya
Dapat diketahui, dua kecamatan di Pantai Barat dilanda banjir disebabkan hujan deras mulai Rabu siang hingga malam kemarin, sungai di wilayah itu meluap dan menggenangi pemukiman penduduk, seperti di Desa Parbatasan dan Kelurahan Tapus Kecamatan Lingga Bayu. Dan, beberapa desa di Kecamatan Natal.
Penambangan emas tanpa izini ini bukan rahasia lagi, karena sudah bertahun-tahun lamanya praktek illegal tersebut berjalan. Akibatnya, sungai Batang Natal dan perkebunan di sekitarnya sudah hancur dan dipastikan bencana alam seperti banjir akan mudah terjadi. Belum lagi soal air sungai yang tidak pernah jernih lagi. Ibarat teh susu, warna air berubah jadi keruh. Dulu, masyarakat memakai air sungai itu untuk keperluan mandi, mencuci pirin dan pakaian
Informasi dihimpun, pekerja pada kegiatan tambang illegal ini sebagian besar warga setempat. Tetapi, pemodal kebanyakan dari luar daerah. Seperti dari Padangsidimpuan, Medan, bahkan banyak pemodal yang berasal dari luar provinsi.
Ironisnya lagi, masyarakat di Kabupaten Madina sering kehilangan BBM jenis solar dikarenakan kebutuhan operasional excavator di lokasi tambang tersebut. (MN-08)






