Situasi Daerah Pasca Pilkada Mandailing Natal

0
588

MADINA – Pemilihan umum kepala daerah di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) yang berlangsung tanggal 9 Desember tahun lalu seolah-olah belum usai. Riuh politik masih terasa dan jadi topik utama pembahasan di tengah lapisan masyarakat. Hal ini dikarenakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) selaku lembaga penyelenggara belum menetapkan siapa pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati terpilih meskipun sebelumnya KPU sudah melakukan rapat pleno penetapan perolehan suara masing-masing pasangan calon yang mana pasangan nomor urut 2, Drs Dahlan Hasan Nasution-Aswin Parinduri ditetapkan sebagai pemilik suara terbanyak mengalahkan pasangan calon nomor urut 1, Sukhairi-Atika dan nomor urut 3, Sofwat-Zubeir.

Setelah 2 hari pelaksanaan Rapat Pleno Rekapitulasi pada 17 Desember hingga 18 Desember 2020, diperoleh hasil Keputusan KPU Kab. Mandailing Natal No : 2232/PL.02.6-Kpt/1213/KPUU-Kaab/XII/2020 tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Perhitungan Perolehan Suara dan Hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Mandailing Natal 2020, antara lain :

  1. Paslon No. Urut 1 H. Muhammad Jafar Sukhairi Nst dan Atika Azmi Utammi = 78.921 suara.
  2. Paslon No. Urut 2 Drs. H. Dahlan Hasan Nasution dan H. Aswin = 79.293 suara.
  3. Paslon No. Urut 3 H. M. Sofwat Nasution dan Ir. H. Zubeir Lubis = 44.993 suara.
  4. Suara Sah = 203.207
  5. Suara Tidak Sah = 5.099.
  6. Total Suara = 208.306 (partisipasi 69,53%).
  7. Jumlah DPT = 299.582.
  8. Selisih suara Paslon No. Urut 2 (menang) dari Paslon No. Urut 1 = 372 suara (0,17%).

Setelah penetapan Pleno, KPU belum menetapkan pasangan Bupati dan Wakil Bupati terpilih disebabkan adanya gugatan sengketa Perselisihan Hasil Pemilihan (PHP) di Mahkamah Konstitusi, pasangan Sukhairi-Atika dan Sofwat-Zubeir menggugat keputusan KPU tentang hasil rekapitulasi perolehan suara.

Proses dan tahapan pertama di Mahkamah Konstitusi telah mengeluarkan keputusan atas gugatan pasangan Sofwat-Zubeir dengan Registrasi 79/PHP.BUP-XIX/2021 pada 16 Februari 2021 dinyatakan ditolak dalam eksepsi bahwa ppemohon tidak memiliki kedudukan hukum sehingga dinyatakan permohonan pemohon tidak dapat diterima. Sementara itu gugatan Paslon 1 Sukhairi-Atika dengan registrasi 86/PHP-BUPU-XIX/2021 diterima dan dilanjutkan ke sidang berikutnya pada 25 Februari 2021 dengan tahapan pemeriksaan alat bukti dan memeriksa saksi-saksi.

Setelah dilaksanakan sidang mendengar keterangan saksi/ahli dan mengesahkan alat buukti tambahan dari gugatan Paslon 1 Sukhair-Atika, berdasarkan jadwal persidangan terkait PHP Pilkada serentak tahun 2020 oleh Mahkamah Konstitusi, tahapan pembacaan keputusan akhir akan dilaksanakan pada tanggal 19 Maret hingga 24 Maret 2021. Termasuk putusan akhir terkait sengketa Pilkada Mandailing Natal yaitu nasib gugatan pasangan Sukhairi-Atika.

di sisi lain, KPU Kabupaten Mandailing Natal telah menyatakan pihaknya akan patuh dan tunduk terhadap apapun keputusan akhir Mahkamah Konsitusi soal gugatan PHP oleh pasangan Sukhairi-Atika yang saat ini sedang menunggu tahapan akhir. Namun, KPU Kabupaten Madina yakin proses Pilkada Kabupaten Madina telah mereka selenggarakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

‘status quo’ hasil Pilkada Madina saat ini menjadi trend topik yang dibahas lapisan masyarakat, apalagi perbedaan perolehan suara antara pasangan calon Dahlan Hasan Nasution-Aswin Parinduri dengan pasangan calon Sukhairi-Atika sangat tipis, yaitu hanya 372 suara atau tidak sampai dua TPS dari total 1.008 TPS di Kabupaten Madina.

para relawan, pendukung, maupun simpatisan Dahlan-Aswin maupun Sukhairi-Atika saling mengklaim dukungan mereka akan ditetapkan sebagai Bupati dan Wakil Bupati terpilih. Situasi ini terpantau bukan hanya di kalangan masyarakat, melainkan di dunia maya seperti media sosial facebook.

Kondisi ini diperparah dengan adanya laporan polisi di Polda Sumatera Utara terkait dugaan 3 oknum ASN di Pemerintah Kabupaten Madina yang membuat surat tanggal mundur terkait mutasi jabatan. Laporan Polisi ini dibuat oleh calon Bupati nomor urut 1 yaitu Sukhairi Nasution yang diketahui saat ini masih menjabat sebagai Wakil Bupati Madina. Perkara surat dengan tanggal mundur ini juga terungkap di dalam persidangan PHP di Mahkamah Konstitusi.

Jika kita melihat sejarah Pilkada Madina pada tahun 2015 dimana Paslon Drs. Dahlan Hasan Nasution dan H. Muhammad Jafar Sukhairi Nasution menang secara telak dalam Pilkada Madina 2015 dengan suara sekitar 100.000 suara dan pada tahun 2020 Pasangan tersebut akhirnya bersaing dalam Pilkada Madina 2020 dengan hasil Paslon Dahlan-Aswin menang tipis sebesar 372 suara (0,17%) dari Paslon Sukhairi-Atika sehingga suara di Kab. Madina seolah-olah terbagi dua walaupun terdapat tiga calon dalam kontestasi tersebut.

Dari 23 kecamatan di Kab. Madina, Paslon 1 Sukhairi Atika menang di 9 kecamatan terutama di kecamatan dengan pemilih terbesar di Kab. Madina seperti di Panyabungan, Kotanopan dan Siabu. Sementara itu, Paslon 2 Dahlan-Aswin menang 12 kecamatan dan sisanya Paslon 3 Sofwat-Zubeir menanf di 2 kecamatan. Jika kita melihat perhitungan strategis suara di wilayah Kab. Madina, Paslon yang meraih suara terbanyak di Kecamatan dengan pemilih terbesar seperti Panyabungan, Kotanopan dan Siabu biasanya dapat memenangkan Pilkada, namun kemenangan Paslon 2 Dahlan-Aswin di 12 kecamatan terutama di kecamatan wilayah Pantai Barat Kab. Madina dapat menutupi kekurangan suara mereka dari kekalahan di Kecamatan Panyabungan, Kotanopan dan Siabu, tertutama dengan adanya 3 calon maka suara menjadi terpecah.

Pemerhati sosial di Kabupaten Madina, Muhammad Ridwan Lubis menilai situasi daerah yang terjadi saat ini suatu hal wajar dikarenakan belum keluarnya putusan akhir Mahkamah Konstitusi.

“dan situasinya akan berbeda lagi apabila Mahkamah Konstitusi sudah mengambil keputusan akhir. Bisa lebih parah lagi dan bisa juga lebih adem. Misalnya MK (Mahkamah Konstitusi) memutuskan harus dilakukan Pemungutan Suara Ulang di beberapa TPS yang dianggap pemohon bermasalah, tentu pasangan calon dan timnya pasti akan bekerja keras lagi memenangkannya, karena kita tahu beda suara sangat tipis. Sukhairi-Atika mengeluarkan segala kekuatan dan kemampuan mengejar ketertinggalan 372 suara, sedangkan Dahlan-Aswin akan bertarung untuk bertahan,

“situasinya agak berbeda apabila misalkan MK menolak gugatan pemohon, itu artinya KPU akan melakukan pleno penetapan Dahlan-Aswin sebagai pemenangnya. Tidak ada cerita lagi, itu artinya game is over. Tentu semua pihak harus legowo karena keputusan MK itu final,” terang Ridwan yang juga pimpinan umum salah satu media cetak dan online berbasis di Mandailing Natal.

Dengan perbedaan selisih suara dalam Pilkada Madina yang sangat kecil yaitu sebesar 372 suara (0,17%), para pendukung/tim sukses Paslon saling mempertahankan argumen dan pendirian masing-masing terutama di media sosial Facebook yang semakin ramai dalam menggiring opini politik sejak menjelang tahapan Pilkada Madina 2020 hingga proses tahapan sidang Sengketa di MK. Dalam situasi politik yang tinggi ini menjelang keputusan akhir dari MK, hingga saat ini, situasi di Kab. Madina dalam keadaan aman dan kondusif, hal ini tidak terlepas dari sinergitas dari seluruh jajaran stakeholder baik penyelenggara, pengawas, pengamanan maupun peserta. (MN-01)